Renungan Harian Katolik
Senin April 2026
Oleh: Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
Mencari Yesus: Tujuan yang Mendalam dan Berarti
Dalam kitab Injil Yohanes, kita membaca bahwa setelah orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di tempat itu dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus. (Yoh. 6:25). Peristiwa ini menunjukkan bahwa pencarian terhadap Yesus bukanlah hal yang sederhana, tetapi merupakan tindakan penting bagi setiap manusia dalam konteks iman.
Motivasi untuk mencari Yesus bervariasi sesuai dengan kepentingan masing-masing orang. Ada yang mencari Yesus hanya untuk melihat-Nya, menyaksikan mukjizat atau tanda ajaib yang Ia lakukan, atau bahkan mendapatkan makanan saat lapar. Namun, apakah motivasi tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan spiritual sejati? Atau justru, apakah kita mencari Yesus hanya untuk mendapatkan pengajaran-Nya, memperoleh berkat sementara, atau bahkan untuk memperoleh kebenaran dan kehidupan kekal?
Yesus, sebagai Mesias Anak Allah, memiliki pemahaman yang mendalam tentang keinginan setiap orang yang datang kepada-Nya. Dengan tegas, Ia mengatakan, “Bekerjalah bukan untuk yang akan dapat binasa, tetapi untuk pekerjaan yang tidak akan binasa, yaitu bekerja untuk memperoleh kehidupan kekal.” (Yoh. 6:27). Hal ini menunjukkan bahwa Yesus tidak hanya ingin memberi makan tubuh, tetapi juga membangun jiwa.
Kebenaran Ilahi dan Keselamatan Kekal
Kebenaran ilahi adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidup manusia. Kebenaran ini menjadi penangkal dari dusta dunia dan tuduhan palsu yang sering kali digunakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan fana yang bisa berujung pada kebinasaan jika tidak bertobat. Seperti contoh dari Stefanus, martir pertama dalam gereja, yang mati dirajam hanya karena tuduhan palsu. Meskipun para pendusta merasa puas dengan tujuan mereka, mereka justru menjebak diri sendiri dalam kebinasaan.
Pemazmur dalam Mazmur 119 menyampaikan tanggapan yang penuh keyakinan, “Jauhkanlah jalan dusta dari padaku, dan kurniakanlah hukum-Mu kepadaku. Aku telah memilih jalan kebenaran, dan menempatkan hukum-hukum-Mu di hadapanku.” (Mzm. 119:29-30). Ini menunjukkan bahwa kebenaran adalah pilihan yang harus dipilih dan dipertahankan dalam kehidupan seorang Kristen.
Keberanian dalam Menyaksikan Kebenaran
Dalam Yesus, Stefanus adalah seorang yang benar, penuh Roh Kudus, dan memiliki hikmat ilahi. Ia melakukan tanda-tanda ajaib di antara orang banyak. Ketika ia diadili dalam sidang Mahkamah Agama, semua orang bersaksi bahwa melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat (Kis. 6:15). Ini menunjukkan bahwa kebenaran yang ia pegang membuatnya memiliki wajah yang indah dan penuh cahaya.
Para pengikut Tuhan Yesus, termasuk kita semua, dipanggil untuk memperjuangkan kejujuran dan kebenaran. Seluruh kebenaran Allah terangkum dalam Diri Yesus Kristus, Anak Allah. Dekat dengan Yesus berarti dekat dengan kebenaran dan kehidupan kekal.
Rahmat Penebusan dan Kesaksian Iman
Melalui rahmat penebusan, kita diberi keberanian untuk memberi kesaksian tentang kebenaran iman kepada dunia demi pertobatan dan keselamatan kekal. Orang yang dikaruniai kebenaran pasti akan mencari Yesus untuk keselamatannya.
Semoga renungan ini menjadi inspirasi dan semangat bagi kita semua dalam menjalani hari ini. Mari kita terus mencari Yesus dengan motivasi yang benar, yaitu untuk memperoleh kebenaran dan kehidupan kekal.
Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan berkatimu semua.


















