Sejarah Panjang Kebun Binatang Surabaya: Dari Hobi Wartawan Menjadi Ikon Wisata
Kebun Binatang Surabaya (KBS) bukan sekadar destinasi wisata keluarga yang populer di Jawa Timur. Di balik usianya yang telah melampaui satu abad, tersimpan kisah panjang yang bermula dari hobi unik seorang wartawan dan kolektor satwa di awal abad ke-20. Perjalanan KBS penuh dengan perpindahan lokasi, krisis pengelolaan, hingga dukungan pemerintah yang membawanya menjadi salah satu kebun binatang terlengkap di Asia Tenggara pada masanya.
Awal Mula: Hobi HFK Kommer yang Berlanjut
Kisah Kebun Binatang Surabaya dimulai pada 31 Agustus 1916, didirikan oleh HFK Kommer. Kommer bukanlah sosok sembarangan; ia dikenal sebagai wartawan sekaligus kolektor satwa yang disegani di Surabaya pada era tersebut. Berasal dari keturunan Indo-Eropa, dengan ayah seorang perwira KNIL berdarah Jerman dan ibu berdarah campuran Prancis-Belgia serta Jawa, Kommer memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman yang beragam.
Sebelum terjun ke dunia jurnalistik, Kommer sempat bekerja sebagai pegawai pemerintahan di Stasiun Pelayanan Telegraf Batavia sejak 1892. Setelah delapan tahun, ia beralih profesi menjadi wartawan dan penulis cerita berbahasa Melayu, bahkan menghasilkan karya sastra terkenal berjudul “Tjerita Nji Paina” pada tahun 1900.
Pada tahun 1902, Kommer memutuskan pindah ke Surabaya dan bergabung dengan media Pewarta Soerabaia sebagai editor sekaligus redaktur. Di sela-sela kesibukannya di dunia jurnalistik, Kommer memiliki kegemaran yang mendalam sejak usia remaja: mengoleksi berbagai jenis satwa. Ia kerap melakukan ekspedisi untuk mengumpulkan hewan-hewan asli Indonesia dari berbagai daerah dan memeliharanya di halaman rumahnya yang beralamat di Jalan Kaliondo, Surabaya.
Memasuki tahun 1912, nama Kommer semakin dikenal luas sebagai kolektor hewan yang handal, bahkan ia juga dikenal sebagai pemburu ular. Awalnya, Kommer tidak memiliki niat untuk mendirikan sebuah kebun binatang. Ia hanya memelihara satwa-satwa yang diperolehnya dari hasil berburu atau pemberian dari rekan-rekannya. Namun, seiring waktu, jumlah koleksi satwa yang terus bertambah menimbulkan beban finansial yang cukup besar untuk perawatan.
Menyadari kesulitan ini, Kommer mengutarakan masalahnya kepada teman-temannya. Saran yang muncul adalah membentuk sebuah organisasi yang dapat membantu dalam pendanaan dan pengelolaan satwa. Dari sinilah lahir sebuah organisasi yang kemudian diberi nama Vereniging Soerabaiasche Planten en Dierentuin, yang berarti Perkumpulan Pecinta Botani dan Binatang Surabaya. Organisasi ini menjadi wadah untuk menggalang dana guna mendukung operasional dan perawatan koleksi satwa yang semakin banyak.
Peresmian dan Perpindahan Lokasi
Melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal Nomor 40, Kebun Binatang Surabaya secara resmi didirikan pada tanggal 31 Agustus 1916 dengan nama Soerabaiasche Planten en Dierentuin, yang memiliki arti Kebun Botani dan Kebun Binatang Surabaya. Koleksi satwa milik pribadi HFK Kommer menjadi koleksi perdana bagi kebun binatang ini. Lokasi awal kebun binatang ini berada di halaman rumah Kommer di kawasan Kaliondo, yang kini merupakan bagian dari wilayah Kapasan, Kecamatan Simokerto, Surabaya.
Struktur kepengurusan pertama Kebun Binatang Surabaya terdiri dari:
* Ketua: Mr JP Mooyman
* Sekretaris: AH de Wildt
* Bendahara: P Egas
* Anggota: FC Frumau, A Lenshoek, HC Liem, JTh Lohman, Edw H Soesman, dan MC Malik.
Meskipun HFK Kommer adalah tokoh sentral di balik pendirian KBS, namanya tidak tercatat dalam struktur kepengurusan formal. Hal ini dikarenakan ia memilih untuk menyerahkan urusan organisasi kepada rekan-rekannya.
Seiring dengan bertambahnya jumlah koleksi satwa, lahan di kawasan Kaliondo mulai terasa tidak memadai. Oleh karena itu, pada tanggal 28 September 1917, kebun binatang ini dipindahkan ke kawasan Grudo, Pandegiling. Perpindahan ini mendapat dukungan dari perusahaan Bouwmaatschappij Koepang yang menyediakan lahan beserta bangunan bekas pabrik gula untuk dijadikan area kebun binatang.
Pada masa-masa awal operasionalnya, Kebun Binatang Surabaya belum memberlakukan tiket masuk. Namun, seiring dengan peningkatan biaya perawatan, pengelola mulai menerapkan sistem tiket pada April 1918. Izin untuk memungut tiket ini diperoleh dari Direktur Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Onderwijs en Eeredienst). Tarif masuk pada waktu itu ditetapkan sebesar 10 sen untuk warga pribumi dan 20 sen untuk nonpribumi.
Namun, masalah keterbatasan lahan kembali muncul dalam kurun waktu kurang dari dua tahun. Pengurus kemudian menjalin komunikasi dengan perusahaan trem uap bernama Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS). Pada tahun 1920, OJS menyerahkan sebuah lahan seluas 30.400 meter persegi di kawasan Darmo, Wonokromo. Kawasan inilah yang kemudian berkembang menjadi lokasi Kebun Binatang Surabaya yang kita kenal hingga kini.
Menghadapi Krisis dan Dukungan Pemerintah
Perjalanan Kebun Binatang Surabaya tidak selalu mulus. Beberapa kali, kebun binatang ini menghadapi krisis dalam hal pengelolaan. Puncak dari krisis ini terjadi ketika para pengurus sepakat untuk membubarkan diri pada 21 Juli 1922.
Namun, Pemerintah Kota Surabaya, yang saat itu dikenal sebagai Gemeente Surabaya, tidak tinggal diam. Pemerintah kota turun tangan dengan menggelar rapat anggota pada 11 Mei 1923 dengan tujuan menyelamatkan keberlangsungan kebun binatang. Melalui upaya ini, pengurus baru berhasil dibentuk pada tahun 1925.
Dukungan pemerintah semakin menguat setelah Dewan Perwakilan Kota mengeluarkan Gemeenteraad Nomor 142 tertanggal 3 Juni 1927. Dengan kebijakan ini, Pemerintah Kota Surabaya secara resmi mengambil alih lahan hibah seluas 32.000 meter persegi yang sebelumnya telah disediakan oleh OJS untuk keperluan perluasan kebun binatang. Selain itu, biaya perbaikan dan pengembangan fasilitas juga sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah kota.
Sejak saat itu, kondisi Kebun Binatang Surabaya terus membaik, bahkan hingga menjelang Perang Dunia II. Jumlah pengunjung mengalami peningkatan yang signifikan. Namun, perhatian terhadap kebun binatang ini sempat menurun pada masa pendudukan Jepang.
Kejayaan dan Perubahan Kelembagaan
Pada periode 1970-an, Kebun Binatang Surabaya mencapai masa keemasannya. Luas kawasan KBS terus bertambah seiring waktu. Pada tahun 1939, total luas kawasan mencapai sekitar 15 hektare. Berbagai pengembangan fasilitas terus dilakukan, termasuk pembangunan akuarium dan terarium, serta perbaikan kandang pada tahun 1957.
Pada era 1970-an inilah, Kebun Binatang Surabaya dikenal sebagai kebun binatang dengan koleksi satwa terlengkap di seluruh Asia Tenggara. Prestasi ini menjadi bukti nyata perkembangan dan pengelolaan yang baik selama bertahun-tahun.
Memasuki era modern, berbagai perubahan kelembagaan pun dilakukan untuk mengikuti perkembangan zaman. Pada tahun 2002, pengelola KBS berganti nama menjadi Perkumpulan Taman Flora dan Satwa Surabaya. Di tahun yang sama, KBS memperoleh pengakuan sebagai Lembaga Konservasi Ex-situ Satwa Liar melalui Surat Keputusan Direktorat Jenderal PHKA.
Sempat terjadi pengalihan pengelolaan kepada Tim Manajemen Sementara pada Februari 2010, yang melibatkan berbagai pihak seperti Direktorat Jenderal PHKA, BKSDA Jawa Timur, Pemerintah Kota Surabaya, dan PKBSI. Kemudian, pada Juli 2012, pengelolaan resmi dialihkan kepada Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (PDTS KBS) berdasarkan Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 19 Tahun 2012.
Selanjutnya, pada tahun 2019, PDTS KBS kembali memperoleh pengakuan sebagai Lembaga Konservasi melalui Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 340/Menlhk/Setjen/KSA.2/5/2019. Pengakuan ini menegaskan kembali peran penting KBS dalam upaya konservasi.
Daya Tarik dan Fasilitas Saat Ini
Saat ini, Kebun Binatang Surabaya berlokasi strategis di Jalan Setail Nomor 1, Darmo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya. Kawasan wisata ini menjadi rumah bagi lebih dari 2.179 ekor satwa yang terdiri dari sekitar 230 spesies. Koleksi satwa tersebut mencakup berbagai kelompok, mulai dari mamalia, aves, reptilia, hingga ikan.
Selain menyaksikan beragam koleksi satwa, pengunjung dapat menikmati berbagai wahana edukatif dan rekreasi yang tersedia. Beberapa di antaranya adalah:
* Aquarium: Menampilkan berbagai jenis ikan dan biota air.
* Animal Edutainment: Program edukasi interaktif tentang satwa.
* Kids Zoo: Area khusus yang dirancang untuk anak-anak berinteraksi dengan hewan jinak.
* Rabbit in Wonderland: Wahana bertema kelinci yang menarik.
* GIZ Park: Zona yang memperkenalkan satwa-satwa unik.
* Animal Story: Pertunjukan atau cerita yang mengedukasi tentang satwa.
* Wisata Perahu: Menikmati suasana danau buatan di dalam kawasan KBS.
Kebun Binatang Surabaya buka setiap hari, mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Harga tiket masuk sangat terjangkau, yaitu Rp15.000 per orang, berlaku baik pada hari kerja maupun akhir pekan. Pengelola juga menyediakan berbagai paket wisata dan edukasi yang dirancang khusus untuk keluarga maupun rombongan sekolah. Paket-paket ini sering kali dilengkapi dengan fasilitas pemandu, aktivitas edukatif yang menarik, hingga sertifikat kunjungan sebagai kenang-kenangan. Dengan sejarahnya yang kaya dan fasilitas yang terus berkembang, Kebun Binatang Surabaya tetap menjadi destinasi yang menarik dan edukatif bagi masyarakat.











