TNI AL Sambut Kapal Perang Jepang di Bitung, Perkuat Diplomasi Maritim
Bitung, Sulawesi Utara – Pangkalan Angkatan Laut (Lantamal) VIII mengerahkan tiga unsur lautnya, yakni KRI Selar-879, KAL Patola, dan KAL Tedung Naga, untuk menyambut kedatangan dua kapal destroyer milik Angkatan Laut Jepang di perairan Bitung. Kehadiran kapal perang dari Japan Maritime Self-Defence Force (JMSDF), yaitu JS Yamagiri (Type Asagiri-Class Destroyer) dan JS Shinarui (Type Asahi-Destroyer), menandai dimulainya kunjungan persahabatan dan latihan taktis bersama.
Kunjungan kedua kapal perusak Jepang ini direncanakan untuk melaksanakan Goodwill Port Visit and Replenishment di Pelabuhan Bitung. Kehadiran kapal-kapal perang asing di perairan Indonesia bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah implementasi dari peran diplomasi maritim yang diemban oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL). Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat konsep Sea Presence, yaitu kehadiran unsur-unsur maritim yang menunjukkan kedaulatan dan kemampuan pengawasan di wilayah laut Indonesia.
Mengenal Kapal Perusak (Destroyer)
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai kegiatan yang dilakukan, penting untuk memahami apa itu kapal perusak atau destroyer. Kapal perusak adalah jenis kapal perang yang memiliki karakteristik kecepatan tinggi, kelincahan, dan daya tahan operasional yang mumpuni. Kapal ini dirancang khusus untuk berperan sebagai pengawal bagi armada yang lebih besar, seperti kapal induk atau kapal penjelajah, serta memberikan perlindungan dari berbagai ancaman.
Secara umum, kapal perusak memiliki bobot antara 5.000 hingga 10.000 ton. Persenjataannya sangat beragam, meliputi rudal untuk berbagai fungsi, meriam kaliber besar, dan torpedo yang efektif untuk peperangan anti-kapal selam maupun anti-pesawat. Desain dan kapabilitas kapal perusak menjadikannya tulang punggung dalam banyak armada laut modern di dunia.
Latihan Taktis Passing Exercise (Passex)
Dalam rangka menyambut kedatangan dua kapal perang dari Angkatan Laut Jepang, Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) VIII telah menyiapkan strategi penyambutan yang melibatkan tiga unsur lautnya yang berada di bawah Satuan Patroli (Satrol) Lantamal VIII. Ketiga unsur tersebut adalah KRI Selar-879, KAL Patola, dan KAL Tedung Naga.
Kehadiran tiga kapal TNI AL ini tidak hanya sebatas untuk melakukan penyambutan formal. Mereka juga dilibatkan dalam latihan taktis yang dikenal sebagai Passing Exercise (Passex). Latihan ini dilaksanakan sebelum kapal-kapal Angkatan Laut Jepang memasuki area pelabuhan Bitung.
Seri latihan Passex yang dilakukan oleh TNI AL merupakan sebuah latihan taktis yang terpadu. Latihan ini melibatkan interaksi antara Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dengan unsur laut asing, atau dapat juga dilaksanakan antar-unsur TNI AL itu sendiri saat kedua pihak berpapasan. Fokus utama dari latihan Passex adalah untuk terus meningkatkan interoperabilitas, yaitu kemampuan untuk bekerja sama dan berkomunikasi secara efektif antar sistem yang berbeda. Selain itu, latihan ini juga bertujuan untuk mengasah profesionalisme personel, memperkuat komunikasi, serta menyempurnakan manuver formasi. Semua ini dilakukan demi menjaga kedaulatan negara dan stabilitas maritim di wilayah perairan Indonesia.
Selama pelaksanaan Passex, beberapa serial latihan spesifik dilakukan untuk menguji kesiapan dan koordinasi, antara lain:
* Comm Established: Latihan untuk memastikan komunikasi radio dapat terjalin dengan lancar antar kapal.
* Flaghoist Exercise: Latihan pengibaran bendera sinyal untuk menyampaikan pesan.
* Pilotage: Latihan pemanduan kapal yang melibatkan koordinasi navigasi.
Rangkaian Kegiatan Port Visit
Selain latihan taktis, kedua kapal perang Jepang tersebut juga dijadwalkan untuk melaksanakan serangkaian kegiatan selama berada di Bitung dalam rangka Port Visit. Kegiatan-kegiatan ini dirancang untuk membangun hubungan baik dan saling pengertian antara kedua negara.
Adapun kegiatan yang akan dilaksanakan oleh kedua kapal perang Jepang selama kunjungan pelabuhan di Bitung meliputi:
* Courtesy Call: Kunjungan kehormatan kepada pejabat terkait di Lantamal VIII atau pemerintah daerah.
* Cultural Tour: Tur budaya untuk memperkenalkan kekayaan dan keunikan budaya lokal kepada awak kapal asing.
* Ops Brief Goodwill Exercise: Sesi briefing operasi untuk merencanakan latihan bersama yang lebih mendalam dan bersifat persahabatan.
* Tabur Bunga: Ziarah dan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan.
Peran Diplomasi Maritim dan Sea Presence
Kehadiran unsur-unsur TNI AL dalam setiap kegiatan kunjungan kapal perang asing, seperti yang terjadi kali ini, merupakan wujud nyata dari implementasi peran TNI AL dalam menjalankan diplomasi maritim. Kegiatan ini secara efektif mempererat hubungan bilateral dan persahabatan dengan negara-negara lain.
Selain itu, partisipasi aktif TNI AL dalam penyambutan dan latihan bersama ini juga merupakan penerapan konsep Sea Presence. Konsep ini menekankan pentingnya kehadiran unsur-uns maritim secara nyata di laut untuk menegaskan kedaulatan, menunjukkan kemampuan pengawasan, serta memberikan rasa aman bagi pelayaran di wilayah perairan Indonesia. Melalui kegiatan seperti ini, TNI AL terus berupaya menjaga stabilitas dan keamanan laut nusantara, sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai negara maritim yang kuat dan terbuka.



















