Pentingnya Kualitas Peralatan Dapur dan Bahan Baku dalam Program Gizi Nasional
Pacitan, Februari 2026 – Isu keamanan pangan kembali mencuat dalam sebuah forum penting yang dihadiri oleh para ahli gizi, akuntan, dan juru masak dari Kabupaten Pacitan, Ponorogo, dan Trenggalek. Nanik Sudaryati Deyang, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, menegaskan kembali pentingnya standar kualitas dalam penyediaan fasilitas dan bahan baku untuk program pelayanan gizi.
Sorotan utama Nanik tertuju pada kualitas peralatan dapur yang digunakan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia menyoroti insiden keamanan pangan yang terjadi di salah satu SPPG di Boyolali pada pekan sebelumnya, di mana ditemukan penggunaan peralatan dapur bekas yang kondisinya memprihatinkan.
“Pasalnya, kejadian di salah satu SPPG di Boyolali yang pekan lalu mengalami insiden keamanan pangan, Ia menemukan mitra SPPG yang menyediakan chiller bekas, kulkas bekas dalam kondisi bermasalah,” ujar Nanik dalam pengarahannya di Hurya Ballroom, Pacitan.
Ia menekankan bahwa tanggung jawab utama penyediaan peralatan dapur yang baru dan berkualitas berada di tangan para mitra. Juru masak, sebagai pihak yang paling memahami kondisi alat, diminta untuk proaktif melaporkan kepada Kepala SPPG apabila ditemukan peralatan yang rusak atau tidak layak pakai. Kepala SPPG kemudian harus segera meminta penggantian kepada mitra.
“Kalau ada alat rusak, harus Mitra yang ganti. Peralatan minta yang bagus, seperti apa di juknisya. Jangan kayak di Boyolali, chillernya bekas, kulkasnya bekas, semuanya bekas. Ini kan kurang ajar. Dia terima Rp6 juta sehari tapi barang bekas ditaruh,” tegas Nanik, menunjukkan kekecewaannya terhadap praktik yang tidak profesional tersebut.
Nanik juga mengancam akan memberikan sanksi tegas berupa penangguhan (suspend) kepada mitra yang lalai dalam memenuhi kewajibannya untuk memperbarui peralatan dapur. Sanksi ini akan berlaku hingga kewajiban tersebut terpenuhi.
Selain peralatan, Nanik juga memberikan instruksi kepada para ahli gizi, akuntan, dan Asisten Lapangan (Aslap) untuk melakukan pemeriksaan yang sangat teliti terhadap semua bahan makanan yang akan diolah di dapur SPPG. Ketelitian ekstra ini krusial untuk mencegah insiden keamanan pangan sejak dini.
Pemeriksaan Bahan Baku: Garis Depan Keamanan Pangan
Proses seleksi bahan baku menjadi garda terdepan dalam menjaga keamanan pangan. Nanik Sudaryati Deyang menekankan pentingnya kejelian dalam mengidentifikasi potensi risiko pada setiap bahan yang akan digunakan.
“Bahan baku kalau memang dari awal sudah ada tanda-tanda ayam itu nggak sehat, sayuran nggak sehat, tahu mungkin nggak sehat, segera kembalikan ke mitra,” imbaunya.
Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa penolakan terhadap bahan baku yang meragukan bukanlah sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan demi melindungi kesehatan masyarakat yang menjadi sasaran program.
Menolak Intervensi Mitra: Menjaga Integritas Menu Gizi
Lebih lanjut, Nanik memberikan instruksi yang sangat tegas kepada para ahli gizi dan akuntan untuk menolak segala bentuk intervensi yang dilakukan oleh mitra SPPG di dapur-dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Intervensi ini sering kali muncul dengan dalih bahwa para ahli gizi masih junior, kurang berpengalaman, atau tidak memahami harga pangan.
Nanik menegaskan bahwa praktik mengubah-ubah menu yang telah disusun oleh Pengawas Gizi oleh mitra adalah tindakan yang tidak dapat ditoleransi.
“Kalau ada yang berani mengubah, saya suspend! Biar mereka rasakan,” serunya dengan tegas.
Ketua Harian Tim Koordinasi 17 Kementerian dan Lembaga untuk Pelaksanaan Program MBG ini meyakini bahwa intervensi tersebut sering kali berujung pada pemilihan produk yang kurang berkualitas demi meraup keuntungan yang lebih besar.
“Karena saya tahu, mereka akan memilihkan produk yang kurang bagus, supaya bisa ambil untung banyak. Awas saja! Ini yang bikin keracunan mulai dari pemilihan bahan baku yang nggak bener,” pungkasnya, yang disambut dengan sorak sorai riuh dan tepuk tangan dari para hadirin.
Tindakan tegas ini diharapkan dapat mencegah terulangnya kasus keracunan pangan yang seringkali berakar dari keputusan-keputusan yang mementingkan keuntungan semata, mengesampingkan kualitas dan keamanan bahan baku. Komitmen terhadap standar tinggi dalam setiap aspek pelaksanaan program gizi menjadi kunci utama untuk memastikan keberhasilan dan keberlanjutan program ini.




















