Jembatan Manyar Tetap Dibuka Selama Arus Mudik Lebaran, Perbaikan Jalan Poros Desa Menanti
Arus mudik Lebaran dipastikan tidak akan terganggu oleh penutupan Jembatan Manyar. Keputusan untuk menunda pembongkaran jembatan yang sebelumnya dijadwalkan pada awal bulan puasa ini diambil demi kelancaran perjalanan para pemudik. Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah Jawa Timur dan Bali secara resmi menjadwalkan ulang pembongkaran tersebut ke periode pasca-Lebaran. Saat ini, kedua jalur Jembatan Manyar di Desa Leran, Gresik, beroperasi normal. Jembatan lama melayani lalu lintas dari arah Sidayu menuju Gresik, sementara jembatan baru difungsikan untuk arus dari Gresik menuju Sidayu.
Kepala Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 4.3 BBPJN Jatim-Bali, Yudi Dwi Prasetya, menjelaskan bahwa penundaan ini merupakan langkah antisipatif untuk menghindari kemacetan dan hambatan arus mudik. Ia menekankan bahwa proses pembongkaran dan pembangunan ulang jembatan membutuhkan waktu yang signifikan, sehingga pelaksanaannya harus diatur sedemikian rupa agar tidak mengganggu mobilitas masyarakat saat puncak arus mudik.
“Melihat jeda waktu yang tidak terlalu jauh dari momentum Lebaran, maka kami putuskan pembongkaran dilakukan setelah Idul Fitri,” ujar Yudi Dwi Prasetya.
Tahap persiapan untuk pembongkaran Jembatan Manyar lama diperkirakan akan dimulai sekitar sepuluh hari setelah Lebaran (h+10). Jembatan lama tersebut akan dibongkar total dan digantikan dengan struktur baru yang identik dengan jembatan yang sudah ada. Selama proses duplikasi atau pembangunan jembatan baru, para pengendara akan dialihkan menggunakan jembatan yang sudah selesai dibangun.
“Desain jembatan pengganti akan sama persis. Selama proses duplikasi jembatan, pengendara akan memanfaatkan jembatan yang baru,” jelas Yudi Dwi Prasetya lebih lanjut.
Selain pekerjaan pada Jembatan Manyar, terdapat pula kegiatan lain yang sedang berlangsung di Jalan Manyar, yaitu pelebaran jalan tahap kedua. Proses ini melibatkan pengurukan lahan yang telah disiapkan untuk pelebaran jalan.
“Pelebaran jalan ini akan dilakukan hingga ke area depan JIIPE (Java Integrated Industrial and Port Estate),” tambahnya.
Sementara itu, di sisi lain, warga perumahan di Desa Pranti, Kecamatan Menganti, Gresik, masih menantikan realisasi janji perbaikan Jalan Poros Desa (JPD). Kondisi jalan tersebut semakin memburuk, terutama setelah terendam luapan anak Kali Lamong pada akhir tahun lalu. Pihak pengembang (developer) sebelumnya telah menyepakati untuk melakukan perbaikan jalan tersebut.
Pertemuan yang melibatkan berbagai pihak, termasuk perwakilan pemerintah kecamatan, telah dilaksanakan pada akhir tahun lalu. Hasil dari pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa sebelum perbaikan fisik dilakukan, penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) harus diselesaikan terlebih dahulu.
“Saat itu, target penyelesaian RAB adalah bulan Januari,” ungkap Adrianus Sulistyanto, salah seorang warga perumahan yang terdampak.
Namun, melewati bulan Januari, Adrianus dan warga lainnya belum melihat adanya kemajuan signifikan. Ia mengaku telah beberapa kali menanyakan progres perbaikan kepada pihak berwenang.
“Saya sudah bertanya ke Dinas Pekerjaan Umum (PU), jawabannya masih dalam proses finalisasi perencanaan,” imbuh Adrianus.
RAB yang sedang disusun ini nantinya akan menjadi acuan bagi developer dalam melaksanakan pembangunan jalan. Kerusakan yang terjadi meliputi sekitar 400 meter panjang jalan. Jalan yang dulunya merupakan permukaan paving kini terlihat seperti jalan tanah akibat kerusakan parah, diperparah dengan banyaknya lubang yang tergenang air.
Adrianus menambahkan bahwa saat banjir melanda, kondisi jalan semakin rusak parah, menciptakan kubangan-kubangan air yang sangat membahayakan pengendara yang melintas.
“Warga sangat berharap agar perbaikan segera dilakukan. Kondisi kerusakan ini sudah berlangsung lama, dan kami sudah memiliki kesepakatan sebelumnya,” tegas Adrianus, menyampaikan keresahan dan harapan masyarakat Desa Pranti.
Situasi ini menyoroti pentingnya koordinasi dan tindak lanjut yang cepat dari pihak-pihak terkait untuk memastikan kenyamanan dan keamanan pengguna jalan, baik dalam skala besar seperti arus mudik Lebaran maupun perbaikan infrastruktur lokal yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.



















