Petis Bumbu Tradisional Indonesia Picu Koper Jemaah Haji Dibongkar di Madinah
Peristiwa tak terduga mewarnai kedatangan jemaah haji asal Indonesia di Bandara Prince Mohammed Bin Abdul Aziz, Madinah. Sebuah koper milik salah seorang jemaah terpaksa harus dibongkar oleh petugas bandara. Pembongkaran ini terjadi lantaran mesin pemindai x-ray mendeteksi adanya barang yang dianggap mencurigakan di dalam koper tersebut.
Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut secara manual, terungkap bahwa barang yang dibawa jemaah tersebut bukanlah barang terlarang atau berbahaya, melainkan petis. Petis adalah bumbu dapur tradisional khas Indonesia yang memiliki cita rasa khas dan sering digunakan dalam berbagai masakan Nusantara. Jemaah tersebut diketahui membawa petis dalam jumlah yang cukup banyak.

Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Bandara, Abdul Basir, memberikan penjelasan mengenai kronologi kejadian ini. Ia menegaskan bahwa pembongkaran koper tersebut bukanlah karena jenis barangnya, yaitu petis, melainkan lebih disebabkan oleh cara pengemasan yang dinilai tidak lazim oleh petugas keamanan bandara di Arab Saudi.
“Kondisi hari ini agak unik ya. Ada satu jemaah yang kopernya terpaksa dibongkar oleh petugas x-ray karena kedapatan membawa petis dalam jumlah yang banyak. Dikemas dalam kemasan yang menurut mereka (petugas) mungkin terlalu mencurigakan,” ujar Abdul Basir kepada awak media saat ditemui di Bandara Madinah pada hari Senin, 27 April lalu.
Mengapa Petis Membuat Petugas Curiga?
Menurut penjelasan Abdul Basir, kepadatan dan bentuk bahan organik seperti petis, terutama jika dikemas secara berlapis-lapis, dapat menghasilkan citra yang ambigu pada mesin x-ray. Tampilan yang tidak jelas ini memicu protokol pemeriksaan manual untuk memastikan bahwa tidak ada barang berbahaya yang diselundupkan. Mesin x-ray dirancang untuk mendeteksi anomali, dan kemasan petis yang padat serta berlapis bisa saja menyerupai objek lain yang berpotensi menimbulkan kekhawatiran bagi petugas keamanan.
Meskipun jemaah tersebut sempat tertahan untuk sementara waktu demi proses pemeriksaan, Abdul Basir memastikan bahwa barang yang dibawanya tidak disita. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dan diberikan penjelasan yang memadai oleh petugas haji Indonesia mengenai jenis barang dan kebiasaan masyarakat Indonesia membawa bumbu dapur tradisional, pihak bandara akhirnya mengizinkan jemaah tersebut untuk tetap membawa petisnya.

“Karena petis itu memang kategori makanan biasa, kategori makanan tradisional, oleh petugas x-ray diberikan (dikembalikan) setelah ada penjelasan dari kita,” tambah Abdul Basir. Kejadian ini menjadi pengingat bagi para jemaah mengenai pentingnya memahami aturan dan regulasi barang bawaan di negara tujuan, serta bagaimana cara pengemasan yang tepat untuk menghindari kesalahpahaman atau penundaan yang tidak perlu.
Tips Membawa Bumbu Tradisional untuk Jemaah Haji
Peristiwa ini juga menyoroti pentingnya persiapan bagi jemaah haji dalam membawa bekal makanan, khususnya bumbu-bumbu tradisional. Berikut beberapa tips yang dapat membantu jemaah agar tidak mengalami kendala serupa:
- Kemasan yang Tepat: Sebisa mungkin, kemas bumbu tradisional dalam kemasan yang transparan atau mudah dikenali. Hindari penggunaan banyak lapisan plastik atau wadah yang buram. Kemasan vakum atau kantong ziplock yang jelas isinya akan lebih baik.
- Jumlah yang Wajar: Bawa bumbu dalam jumlah yang wajar untuk kebutuhan pribadi selama perjalanan ibadah. Membawa dalam jumlah sangat banyak berpotensi menimbulkan kecurigaan.
- Informasi yang Jelas: Jika memungkinkan, sertakan label yang jelas pada kemasan bumbu, mencantumkan nama bumbu dan asal negaranya.
- Pahami Aturan Negara Tujuan: Selalu cari informasi terbaru mengenai barang-barang yang diperbolehkan dan dilarang dibawa ke Arab Saudi. Informasi ini biasanya tersedia melalui kementerian terkait atau penyelenggara ibadah haji.
- Konsultasi dengan Petugas Haji: Sebelum keberangkatan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan petugas haji mengenai jenis-jenis makanan atau bumbu yang aman untuk dibawa.
Dengan persiapan yang matang dan pemahaman yang baik mengenai aturan, diharapkan seluruh jemaah haji dapat melaksanakan ibadah dengan tenang dan lancar tanpa hambatan yang berarti. Petis, sebagai bagian dari kekayaan kuliner Indonesia, tetap dapat dinikmati bahkan di tanah suci, asalkan dibawa dengan cara yang benar.



















