Laba Pertama dalam Sejarah, Saham GOTO Melonjak
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) berhasil mencatatkan laba untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan. Emiten teknologi yang dikenal dengan layanan transportasi online ini membukukan laba bersih sebesar Rp 257,94 miliar pada kuartal pertama 2026. Capaian ini menunjukkan perkembangan signifikan dan dianggap sebagai langkah penting menuju profitabilitas berkelanjutan.
Sehari setelah pengumuman kinerja keuangan perseroan, harga saham GOTO langsung mengalami lonjakan tajam. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia sesi pertama hari ini, Rabu (29/4), harga saham GOTO melonjak sebesar 5,66% menjadi level 56. Sahamnya diperdagangkan senilai Rp 363,29 miliar.
Analis dari Panin Sekuritas Cabang Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai capaian laba operasional perdana ini menjadi tonggak penting bagi GOTO. Menurut dia, hasil tersebut menunjukkan bahwa model bisnis perseroan yang selama bertahun-tahun identik dengan strategi “bakar uang” mulai matang dan mampu menghasilkan arus kas operasional positif.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa pencapaian ini belum sepenuhnya menandakan kondisi perusahaan sudah sepenuhnya sehat. Menurutnya, GOTO masih berada dalam fase transisi dari strategi pertumbuhan agresif menuju profitabilitas berkelanjutan. Fase ini biasanya menarik, tapi juga penuh ketidakpastian karena belum teruji dalam siklus ekonomi penuh.
Elandry menyebut target harga saham GOTO berdasarkan konsensus analis saat ini berada di kisaran Rp 80 hingga Rp 110 per saham. Dalam skenario optimis, harga saham bahkan berpotensi mencapai Rp 120 jika profitabilitas perseroan dapat terjaga secara konsisten. Namun, target tersebut tetap bergantung pada realisasi kinerja perseroan.
Dalam kondisi pasar yang masih sensitif terhadap pergerakan suku bunga dan inflasi, saham teknologi tidak lagi mendapat valuasi premium seperti pada periode 2020–2021. Jadi, kenaikan harga saham ke depan akan lebih bergantung pada eksekusi nyata, bukan sekadar narasi pertumbuhan.
Sentimen Positif dan Risiko Saham GOTO
Elandry menilai konsistensi profitabilitas menjadi faktor utama yang dapat mendorong kinerja saham GOTO sepanjang tahun ini. Jika selanjutnya perseroan mampu mencetak laba bersih secara konsisten, maka hal itu berpotensi memicu re-rating valuasi. Selain itu, segmen teknologi finansial seperti GoPay dan layanan pinjaman dinilai memiliki potensi menjadi sumber pertumbuhan baru karena menawarkan margin lebih tinggi dibandingkan bisnis transportasi daring.
Efisiensi biaya serta peningkatan monetisasi melalui iklan dan kenaikan take rate juga dinilai menjadi faktor penting untuk memperbaiki margin keuntungan. Di sisi lain, kekuatan ekosistem GOTO di pasar domestik masih menjadi keunggulan kompetitif.
Meski prospeknya membaik, sejumlah risiko tetap membayangi. Persaingan dengan pemain besar seperti Grab Holdings dan Sea Group masih ketat dan berpotensi memicu kembali perang harga. Selain itu, valuasi saham GOTO saat ini mulai mencerminkan ekspektasi perbaikan kinerja. Jika hasil yang dicapai tidak sesuai harapan pasar, ruang kenaikan saham dapat menjadi terbatas.
Faktor lain yang perlu dicermati adalah potensi berakhirnya periode lock-up saham yang dimiliki investor awal, perusahaan modal ventura, maupun pihak internal. Menurut Elandry, berakhirnya periode tersebut dapat memicu aksi ambil untung atau taking profit secara bertahap. Hal ini berpotensi meningkatkan tekanan jual di pasar dan menahan laju kenaikan harga saham meskipun fundamental perusahaan menunjukkan perbaikan.
Kinerja Keuangan GOTO Kuartal I 2026
GOTO membukukan laba bersih tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 257,94 miliar sepanjang kuartal pertama 2026. Torehan Januari–Maret 2026 ini menjadi laba pertama kali sepanjang sejarah bagi GOTO sejak berdirinya perusahaan. Capaian laba GOTO itu berbalik rugi dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 283,32 miliar pada kuartal pertama 2025.
Berdasarkan kinerja keuangannya, pendapatan GOTO tercatat sebesar Rp 5,34 triliun hingga kuartal pertama 2026. Angka itu melonjak 26,25% yoy dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 4,23 triliun. Lalu EBITDA yang disesuaikan naik 131% yoy menjadi Rp 907 miliar.
Direktur Utama GOTO Hans Patuwo mengatakan torehan laba bersih untuk pertama kalinya dalam sejarah GoTo ini menjadi momen penting bagi perusahaan. Hans menyebut perjalanan perusahaan berlanjut seiring dengan upaya dalam mengakselerasi pertumbuhan melalui pengembangan produk yang sesuai kebutuhan pelanggan.
“Dengan melalui investasi secara berkelanjutan pada kemampuan bisnis yang akan membantu kami mewujudkan hal ini,” kata Hans dalam keterangannya, Selasa (28/4).
GOTO meningkatkan skala seiring dengan pertumbuhan pengguna bertransaksi tahunan Grup (ATU) sebesar 22% menjadi 69 juta. Seiring dengan itu, pertumbuhan GTV inti Grup sebesar 65% menjadi Rp 138 triliun, dan total GTV naik menjadi Rp 236 triliun atau meningkat 63%. GOTO juga mencatatkan arus kas bebas yang disesuaikan positif sebesar Rp 1,3 triliun.


















