Iran Ajukan Pembentukan Aliansi Keamanan Regional, Usir AS dan Israel
Iran pada Rabu, 25 Maret 2026, melontarkan seruan kepada negara-negara di kawasan Timur Tengah untuk membentuk sebuah “aliansi keamanan dan militer” yang secara tegas mengecualikan kehadiran Amerika Serikat (AS) dan Israel. Teheran berargumen bahwa negara-negara yang berjarak jauh dari kawasan tidak relevan dalam upaya menjamin keamanan regional.
“Saatnya telah tiba untuk membentuk sebuah aliansi keamanan tanpa kehadiran AS dan Israel,” tegas juru bicara Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, melalui pesan video yang ditujukan kepada negara-negara Arab dan Islam. Zolfaghari menggambarkan agresi yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran sebagai sebuah “fase baru,” dan menyatakan bahwa Iran berada di garis depan dalam mempertahankan bangsa-bangsa Islam. Ia menekankan pentingnya sikap kemandirian dari kekuatan eksternal dan kembali kepada ajaran Al-Quran.
“Kita harus bersatu untuk menjamin keamanan dan melangkah maju menuju sebuah perjanjian keamanan kolektif yang berlandaskan Islam dan Al-Quran sebagai referensi, inti, dan dasar yang kokoh,” ujar Zolfaghari.
Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang terus membayangi Timur Tengah. Iran tampaknya melihat perlunya sebuah kerangka kerja keamanan yang lebih terintegrasi dan independen dari pengaruh kekuatan global yang dianggap tidak memiliki kepentingan langsung terhadap stabilitas kawasan. Dorongan untuk membentuk aliansi semacam ini mengindikasikan pergeseran strategis yang signifikan, di mana Iran berupaya membangun blok keamanan regional yang kuat, bebas dari campur tangan kekuatan luar.
Tanggapan Negara-negara Teluk dan Dinamika Regional
Menanggapi langkah Iran, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, menyatakan pada pekan sebelumnya bahwa Iran keliru jika meyakini negara-negara Teluk tidak mampu merespons tindakannya. Ia memperingatkan bahwa serangan Iran terhadap negara-negara Teluk tidak akan memberikan keuntungan bagi Teheran, justru akan memperdalam isolasi Iran.
Pangeran Faisal menambahkan bahwa kepercayaan terhadap Iran telah terkikis akibat apa yang ia gambarkan sebagai serangan berulang terhadap negara-negara Teluk dan pelanggaran prinsip-prinsip bertetangga yang baik. Ia menuduh Teheran menjalankan kebijakan pemerasan untuk mencapai tujuannya. Lebih lanjut, ia mengklaim bahwa negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) sedang berkoordinasi untuk menghadapi serangan Iran, serta menyoroti bahwa Iran telah menargetkan situs-situs sipil di negara-negara Teluk pada awal konflik.
Pernyataan Pangeran Faisal mencerminkan kekhawatiran mendalam dari negara-negara Arab di Teluk mengenai kebijakan luar negeri Iran dan dampaknya terhadap stabilitas regional. Tuduhan mengenai penargetan situs sipil dan kebijakan pemerasan menunjukkan tingkat ketidakpercayaan yang tinggi antara Iran dan tetangga-tetangganya. Koordinasi antara negara-negara GCC untuk menghadapi ancaman Iran menggarisbawahi upaya kolektif untuk mempertahankan keamanan dan kedaulatan mereka di tengah lanskap geopolitik yang kompleks.
Analisis Implikasi Aliansi Keamanan Regional
Pembentukan aliansi keamanan dan militer yang diusulkan oleh Iran, dengan penekanan pada pengusiran AS dan Israel, memiliki implikasi yang luas bagi dinamika Timur Tengah.
-
Pergeseran Keseimbangan Kekuatan: Jika berhasil, aliansi ini dapat secara signifikan mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan. Iran akan memposisikan dirinya sebagai pemimpin blok keamanan regional yang independen, mengurangi ketergantungan pada kekuatan eksternal dan meningkatkan pengaruhnya sendiri.
-
Potensi Eskalasi Konflik: Di sisi lain, upaya untuk membentuk aliansi yang secara eksplisit menentang AS dan Israel dapat meningkatkan ketegangan dan memicu respons dari kedua negara tersebut, yang berpotensi membawa kawasan ke dalam konflik yang lebih luas.
-
Tantangan Implementasi: Mewujudkan aliansi semacam ini tidak akan mudah. Perbedaan kepentingan, rivalitas historis, dan ketidakpercayaan antar negara di Timur Tengah menjadi hambatan besar. Iran perlu meyakinkan negara-negara lain bahwa aliansi ini akan memberikan keamanan yang lebih baik daripada kemitraan yang ada saat ini.
-
Peran Agama dan Ideologi: Penekanan Iran pada “ajaran Al-Quran” sebagai dasar aliansi menunjukkan upaya untuk memanfaatkan identitas agama dan ideologi guna menyatukan negara-negara mayoritas Muslim di kawasan. Namun, hal ini juga dapat memicu perdebatan mengenai interpretasi ajaran agama dan potensi eksklusivitas.
-
Dampak pada Hubungan Internasional: Pembentukan blok keamanan regional yang independen dapat memicu pergeseran dalam lanskap hubungan internasional, di mana negara-negara Timur Tengah berusaha untuk lebih mandiri dalam urusan keamanan mereka, terlepas dari pengaruh kekuatan besar global. Hal ini dapat mendorong negara-negara lain untuk mengevaluasi kembali strategi mereka di kawasan tersebut.
Seruan Iran untuk aliansi keamanan regional tanpa AS dan Israel menandai momen penting dalam upaya Teheran untuk membentuk kembali arsitektur keamanan di Timur Tengah. Keberhasilan atau kegagalan inisiatif ini akan sangat bergantung pada kemampuan Iran untuk menjembatani perbedaan, membangun kepercayaan, dan menawarkan visi keamanan yang menarik bagi negara-negara lain di kawasan yang penuh dengan kompleksitas geopolitik.

















