Dari sebuah kampung kecil di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, hadir produk lokal yang belakangan semakin dikenal berkat kualitas serta inovasinya.
Namanya Gula Semut Puraseda, olahan nira aren khas Kampung Citugu, Desa Puraseda, yang dikelola sebagai UMKM binaan warga setempat.
Produk ini tidak hanya menawarkan cita rasa manis alami, tetapi juga menyimpan cerita tentang bagaimana potensi desa dapat dikembangkan melalui pemberdayaan petani lokal.
Gula Semut Puraseda menjadi bukti bahwa hasil alam Bogor mampu bersaing dan memiliki nilai jual tinggi.
Sarheli (26), pemuda asal Kampung Citugu yang kini menjadi pengelola usaha ini, menceritakan awal mula Gula Semut Puraseda berdiri pada 2021 melalui program pemerintah PHP2D (Program Holistik Pemberdayaan dan Pembinaan Desa).
Saat itu, para mahasiswa peserta program ditantang untuk menggali potensi desa.
Hasil survey menunjukan bahwa Desa Puraseda memiliki sumber daya alam melimpah berupa pohon aren yang bisa diolah menjadi produk bernilai lebih.
“Awalnya tidak terpikir membuat gula semut, kami hanya melihat potensi gula aren gelondongan. Setelah pelatihan dan diskusi dengan petani berpengalaman, kami akhirnya menemukan bahwa gula gelondongan ini bisa diolah lebih lanjut menjadi gula semut,” ujar Sarheli.
Nama “gula semut” sendiri berasal dari istilah pelatihan pembuatan gula bubuk dari gula aren yang dicetak.
Proses pembuatannya cukup panjang. Air nira diambil petani, lalu diolah menjadi gula aren gelondongan.
Setelah itu, gula tersebut dihancurkan dan melalui proses pemanasan, pengeringan menggunakan oven, hingga penyaringan hingga menghasilkan tekstur bubuk yang halus dan kering.
Tidak ada bahan pengawet atau campuran tambahan yang digunakan. Kualitas gula dipilih ketat, harus berwarna kuning, keras, manis, dan tidak pahit.
“Kita seleksi dulu. Tidak semua gula gelondongan bisa dijadikan gula semut. Kalau kualitasnya jelek, hasilnya gagal,” ujar Sarheli.
Gula Semut Puraseda hadir dalam tiga jenis kemasan, yakni 250 gram Rp 15.000 hingga 17.000, 500 gram Rp 25.000, dan 1 kilogram Rp 45.000.
Meski permintaan cukup tinggi, produksi tidak selalu stabil karena ketersediaan bahan baku bergantung pada pohon aren yang sulit dibudidayakan.
Beberapa pelatihan penanaman sudah dilakukan, namun hasilnya belum optimal.
Keterbatasan bahan baku membuat produksi besar-besaran sulit dilakukan.
Meski begitu, produk ini tetap dikenal luas melalui kelompok tani, pemerintahan desa, serta promosi mahasiswa di marketplace.
Gula Semut Puraseda juga pernah dipajang di beberapa unit usaha kampus dan minimarket daerah.
Permintaan biasanya meningkat saat Ramadhan ketika kebutuhan gula alami melonjak.
Dalam masa ramai, omzet produksi bisa mencapai 15 kilogram per hari atau sekitar 50 kilogram per minggu.

UMKM ini juga melibatkan petani aren dari Lunggunung dan warga sekitar, mulai dari pengambilan nira hingga pengemasan.
Sarheli berharap pohon aren kedepan bisa lebih diberdayakan agar produksi stabil dan manfaatnya lebih besar bagi masyarakat.
Selain menjadi komoditas lokal bernilai ekonomi, gula semut juga dikenal lebih sehat karena tidak mengandung pemutih, memiliki indeks glikemik rendah, serta ramah lingkungan.
Bagi yang ingin merasakan pengalaman menyaksikan proses pengolahan nira aren dari petani lokal, kenal lebih dekat dengan UMKM desa, dan temukan cita rasa manis alami yang dihasilkan dari kearifan lokal Bogor.
Lokasinya berada di Kampung Citugu, Desa Puraseda, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
(Fifi Sulistiawati Dewi/Institut Ummul Quro Al Islami Bogor)




















