Jusuf Kalla Batal Hadiri PSBM XXVI, Fokus Perdamaian di Thailand
Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI tahun 2026 terpaksa kehilangan salah satu tokoh pendirinya, Jusuf Kalla. Mantan Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 ini tidak dapat hadir karena memiliki agenda penting yang bertepatan di Thailand. Kabar ini disampaikan langsung oleh Aksa Mahmud, salah satu penggagas PSBM lainnya.
Aksa Mahmud mengungkapkan bahwa Jusuf Kalla awalnya telah menjadwalkan kehadirannya. Namun, sebuah lawatan yang telah terencana ke Bangkok menghalanginya untuk hadir. “Tadi, Pak JK sampaikan tak bisa hadir, karena mau ke Thailand urus perdamaian,” ujar Aksa saat memberikan sambutan di acara halal bi halal Kerukunan Keluarga Daerah Barru (KKDB).
Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) sendiri merupakan sebuah forum yang digagas oleh trio saudagar muda pada masanya: Jusuf Kalla, Aksa Mahmud, dan Alwi Hamu. Gagasan ini lahir dari keinginan untuk menyatukan dan memperkuat jaringan para saudagar Bugis-Makassar.
Sejarah Kelahiran PSBM: Dari Keraguan Hingga Kolaborasi
Kelahiran PSBM memiliki cerita menarik di baliknya. Tiga puluh tiga tahun lalu, tepatnya pada tahun 1993, ketika Jenderal M. Jusuf telah melewati usia matangnya dan baru saja mengakhiri masa jabatan kedua sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK-RI), trio saudagar muda ini memberanikan diri mendatangi kediamannya di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat.
Jusuf Kalla, yang saat itu berusia 50 tahun, Alwi Hamu (48 tahun), dan Aksa Mahmud (46 tahun), adalah tiga sekawan yang juga memiliki latar belakang sebagai mantan aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) angkatan 1966 di Sulawesi Selatan. Mereka adalah alumni Universitas Hasanuddin.
Aksa Mahmud menceritakan momen tersebut dengan penuh ketegangan. “Kami bertiga, satu mobil datang ke Teuku Umar tegang. Sebagai mantan aktivis KAMI, kita datang yakinkan Jenderal M. Jusuf, datang hadiri pertemuan pertama Saudagar di Ujungpandang,” kenang Aksa Mahmud (80) saat memberikan sambutan resmi di Musyawarah Besar (Mubes) VII Kerukunan Keluarga Daerah Barru (KKDB) di Hotel Aryaduta, Makassar, Selasa (24/3/2026).
Ketegangan tersebut beralasan. Jenderal M. Jusuf dikenal sebagai sosok nasionalis sejati yang kerap kali menghindar dari acara-acara yang bersifat kedaerahan. Pada tahun 1957, saat masih berpangkat letnan kolonel, M. Jusuf bahkan secara terbuka mengumumkan di media massa bahwa ia akan menanggalkan gelar “Andi” di depannya. Selain itu, peta politik nasional saat itu yang sangat sensitif di bawah kendali Orde Baru juga menjadi pertimbangan tersendiri.
Pengaruh Jenderal M. Jusuf, yang pernah menjabat sebagai Menhankam/Panglima ABRI ke-7 (1978-1983), masih sangat kuat. Ia bahkan santer disebut sebagai figur ideal pengganti Wakil Presiden kelima, Sudharmono.
Strategi Meyakinkan Sang Jenderal
Ketika trio saudagar ini menyampaikan niat mereka untuk menggelar acara saudagar di kediaman Jenderal M. Jusuf, sang jenderal sempat menolak. “Itu acara-suku suku-an lagi. Tidak perlu itu begitu,” ujarnya.
Namun, sebagai saudagar yang juga pengusaha, Kalla dan kawan-kawan tidak kehabisan akal. “Kalau kehabisan akal, bukan saudagar namanya,” ujar Aksa. Pada saat itu, Jusuf Kalla menjabat sebagai Direktur Utama NV Hadji Kalla sekaligus Ketua Kadin Sulsel. Alwi Hamu adalah wakil dan penerbit surat kabar Harian FAJAR, sementara Aksa adalah direktur Bosowa sekaligus Ketua Gapensi dan BPD HIPMI Sulsel.
Jusuf Kalla kemudian memberikan argumen yang meyakinkan. Ia menjelaskan bahwa pertemuan tersebut juga akan menjadi momen untuk mengajak para pengusaha dan saudagar perantau untuk bersama-sama membangun Masjid Al Markaz Al Islam di Makassar. Dengan alasan rasional yang bernuansa religius ini, Jenderal M. Jusuf akhirnya menyatakan kesediaannya untuk hadir.
Tiga bulan setelah pertemuan silaturahmi pengusaha tersebut dihelat di Balai Manunggal ABRI-Rakyat, pada tahun 1994, Jenderal M. Jusuf meletakkan batu pertama proyek pusat peradaban Islam di Sulawesi Selatan.
PSBM XXVI: Memperkuat Jaringan Ekonomi Bugis-Makassar
Kisah pertemuan di kediaman Jenderal M. Jusuf ini diceritakan kembali oleh Aksa Mahmud sehari sebelum perhelatan Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) ke-XXVI, yang digelar pada 25-26 Maret 2026. Sebelum mendatangi Jenderal M. Jusuf, trio saudagar ini juga telah berkomunikasi dan mendapatkan dukungan dari Gubernur Sulsel HZB Palaguna, serta Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Beddu Amang.
Sejak saat itu, penyelenggaraan PSBM secara rutin dilaksanakan bersama dengan Kadin Sulsel, KKSS, dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI yang berlangsung di Hotel Claro Makassar ini mengusung tema “Saudagar Tangguh, Ekonomi Tumbuh”. Forum besar ini menjadi ajang penting untuk mempertemukan para saudagar, pengusaha, tokoh masyarakat, serta pemangku kepentingan lainnya. Diharapkan, PSBM kali ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat jaringan ekonomi masyarakat Bugis-Makassar, baik di tingkat nasional maupun global. Kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi untuk membahas peluang investasi, penguatan ekonomi daerah, serta strategi menghadapi dinamika ekonomi global.
Perlu dicatat, PSBM pertama kali digelar pada tahun 1993, setelah Idul Fitri 1413 Hijriyah, bertepatan dengan libur Lebaran pada 25 dan 26 Maret 1993. Acara ini diselenggarakan hanya berselang dua bulan setelah HZB Palaguna dilantik sebagai Gubernur Sulsel, menggantikan Prof. Dr. Ahmad Amiruddin yang telah menjabat selama dua periode.
Tahun sebelumnya, PSBM ke-25 telah diselenggarakan di Makassar pada 9 hingga 11 April 2025, bertepatan dengan momen silaturahmi Idul Fitri.
















