Wakil Ketua DPRD Kota Medan, H Zulkarnaen SKM, menekankan urgensi Pancasila sebagai fondasi utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang harus dipegang teguh oleh seluruh rakyat Indonesia. Di era modern yang ditandai dengan pesatnya kemajuan teknologi dan derasnya arus budaya asing, nilai-nilai luhur Pancasila menjadi semakin krusial untuk dilestarikan, terutama di kalangan generasi muda.
Penegasan ini disampaikan Zulkarnaen dalam sebuah acara yang diselenggarakan untuk Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan. Kegiatan yang mengusung tema “Pancasila sebagai Sumber Nilai, Moral dan Etika Publik” ini berlangsung di Jalan Denai No. 105, Kelurahan Tegal Sari Mandala II, Kecamatan Medan Denai. Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk Camat Medan Denai Yogi Prayoga, perwakilan dari Kelurahan Tegal Sari Mandala II, tokoh masyarakat setempat, serta ratusan warga.
Pancasila: Fondasi Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Dalam sambutannya, Zulkarnaen secara tegas mengingatkan pentingnya menjaga dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari. Ia menyatakan, “Pancasila merupakan sumber segala sumber berbangsa dan bernegara. Sebagai warga negara Indonesia, kita wajib menjunjung tinggi dan mempedomani nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.”
Politisi dari Partai Gerindra ini menyoroti bahwa bangsa Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan yang signifikan, yaitu menurunnya pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai kebangsaan. Menurut pandangannya, kemajuan teknologi yang pesat, jika tidak dibarengi dengan penguatan karakter, dapat berujung pada terkikisnya moral dan jati diri bangsa.
“Pancasila adalah warisan berharga para pendiri bangsa. Jangan sampai nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tergeser oleh budaya asing yang masuk melalui perkembangan teknologi dan informasi,” tegasnya.
Makna Mendalam Setiap Sila Pancasila
Zulkarnaen kemudian merinci bagaimana kelima sila dalam Pancasila mengandung nilai-nilai fundamental yang menjadi kerangka bagi seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia.
-
Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa
Menanamkan kesadaran akan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, mendorong toleransi antarumat beragama, dan kebebasan dalam beribadah sesuai keyakinan masing-masing. -
Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Mengedepankan penghormatan terhadap martabat manusia, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, serta memperlakukan sesama dengan adil dan beradab tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan. -
Sila Ketiga: Persatuan Indonesia
Membangun semangat kebangsaan yang kuat, mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan, serta mencintai tanah air Indonesia. -
Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Menerapkan prinsip demokrasi yang berlandaskan musyawarah untuk mufakat, menghargai pendapat orang lain, dan mengambil keputusan secara bijaksana demi kepentingan bersama. -
Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Mewujudkan keadilan di segala bidang kehidupan, baik ekonomi, sosial, maupun politik, demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia tanpa diskriminasi.
Oleh karena itu, Zulkarnaen menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar simbol negara, melainkan sumber nilai, moral, dan etika publik yang seharusnya menjadi landasan dalam setiap tindakan masyarakat.
“Pancasila adalah pedoman yang membentuk karakter bangsa. Jika nilai-nilai Pancasila terus dijaga, maka persatuan dan keharmonisan bangsa akan tetap terpelihara,” pungkasnya.
Pentingnya Pembinaan Berkelanjutan
Lebih lanjut, Zulkarnaen menekankan pentingnya kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan dilaksanakan secara berkelanjutan. Ia berpendapat bahwa edukasi semacam ini merupakan sarana yang efektif untuk memperkuat kesadaran masyarakat agar senantiasa menjadikan Pancasila sebagai panduan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Mengutip pesan Proklamator RI Ir. Soekarno, Zulkarnaen menyebut Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus. “Jangan sampai nilai-nilai Pancasila tergerus oleh zaman. Ketika nilai-nilai itu hilang, maka kita akan kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia,” ujarnya.
Menyikapi hal ini, Camat Medan Denai, Yogi Prayoga, turut menyampaikan pandangannya. Ia sepakat bahwa tantangan terbesar saat ini adalah menjaga agar generasi muda tetap memahami dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila di tengah derasnya pengaruh teknologi digital.
“Pancasila adalah jati diri bangsa. Karena itu, kita semua memiliki tanggung jawab untuk menanamkan dan menjaga nilai-nilai luhur tersebut kepada anak-anak dan generasi muda,” tutupnya.



















