Memperkuat Ukhuwah Islamiyah Global: PUI Berpartisipasi Aktif dalam Konferensi Kerjasama Strategis Islam Asia Pasifik
Persatuan Ummat Islam (PUI) secara konsisten berupaya memperluas dan memperdalam jaringan persaudaraan Muslim di kancah internasional. Upaya ini kembali ditunjukkan melalui partisipasi aktif PUI dalam agenda Konferensi Islamic Strategic Cooperation in Asia Pacific yang diselenggarakan di Malaysia. Kehadiran PUI dalam forum penting ini menegaskan komitmennya untuk berkontribusi dalam dialog strategis dan kerjasama antarumat Islam di kawasan Asia Pasifik dan sekitarnya.
Peran Aktif Delegasi PUI dalam Forum Internasional
Dalam konferensi yang berlangsung dari tanggal 15 hingga 17 Mei 2026 ini, PUI diwakili oleh Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri DPP PUI, Dr. Adhe Nuansa Wibisono. Beliau tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga terlibat secara aktif dalam berbagai sesi diskusi yang krusial. Kehadirannya menjadi representasi PUI dalam membangun jembatan komunikasi dan kerjasama dengan berbagai organisasi Muslim serta tokoh terkemuka dari berbagai negara.
Konferensi ini sendiri merupakan inisiatif dari The International Institute of Advanced Islamic Studies (IAIS) Malaysia, sebuah lembaga yang memiliki rekam jejak kuat dalam kajian dan pengembangan pemikiran Islam. Kehadiran berbagai delegasi dari negara-negara di kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah menunjukkan signifikansi forum ini dalam merumuskan langkah-langkah strategis untuk menghadapi tantangan global umat Islam.
Dukungan terhadap Deklarasi Lahore: Menuju Tatanan Dunia yang Lebih Adil
Salah satu momen penting dalam partisipasi PUI adalah pertemuan antara Dr. Adhe Nuansa Wibisono dengan delegasi dari Jamaat Islami Pakistan, yaitu Dr. Ata-ur Rahman dan Mr. Asif Luqman Qazi. Dalam pertemuan tersebut, Wibisono secara tegas menyampaikan dukungan penuh PUI terhadap Deklarasi Lahore yang diinisiasi oleh Jamaat Islami Pakistan.
Deklarasi Lahore, yang dicetuskan pada 24 November 2025 di Pearl Continental Hotel, Lahore, Pakistan, merupakan sebuah manifesto global yang lahir dari Konferensi Meja Bundar Internasional dengan tema “Quest for a Just Global Order”. Konferensi ini berhasil mengumpulkan lebih dari 100 delegasi internasional dari berbagai benua, termasuk Asia, Afrika, Eropa, dan Timur Tengah.
Dr. Adhe Nuansa Wibisono menggarisbawahi bahwa warisan kolonial dan struktur kekuasaan yang terbentuk pasca Perang Dunia II telah terbukti gagal dalam mewujudkan keadilan, kesetaraan, dan perdamaian global. Pernyataan ini disampaikan Wibisono dalam siaran persnya di Jakarta pada Senin, 1 Juni 2026. Beliau juga menyoroti adanya standar ganda dan pendekatan yang tebang pilih dalam penerapan hukum internasional oleh sistem global saat ini.
Lebih lanjut, Wibisono menekankan isu krusial lainnya, yaitu eksploitasi sumber daya alam di negara-negara mayoritas Muslim dan kesenjangan ekonomi global yang semakin melebar. Hal-hal ini menjadi landasan kuat bagi PUI untuk mendukung inisiatif seperti Deklarasi Lahore yang berupaya menciptakan tatanan dunia yang lebih berkeadilan.
Usulan Pakistan sebagai Sekretariat Bersama: Memperkuat Koordinasi Gerakan Islam
Menanggapi usulan Pakistan untuk menjadi sekretariat bersama ke depan, PUI memberikan sambutan yang sangat positif. Dr. Adhe Nuansa Wibisono menyatakan, “PUI juga mendukung inisiatif Jamaat Islami untuk membuka kantor pusat koordinasi internasional di Pakistan. Hal ini penting untuk mendukung kerjasama di antara gerakan-gerakan Islam dan lembaga kemanusiaan global.”
Pembentukan sekretariat bersama di Pakistan diharapkan dapat menjadi pusat koordinasi yang efektif bagi berbagai organisasi dan gerakan Islam di seluruh dunia. Hal ini akan mempermudah pertukaran informasi, sinkronisasi program, dan kolaborasi dalam menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi umat Islam secara global.
Mendesak Penyelesaian Krisis Kemanusiaan dan Menuntut Hak Asasi
Dalam forum tersebut, PUI juga tidak lupa menyuarakan desakan untuk segera menyelesaikan konflik dan menghentikan krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung di Gaza, Palestina. Dr. Wibisono dengan tegas menyatakan, “Krisis Gaza adalah bukti paling jelas dari kelumpuhan tatanan global PBB yang tidak mampu menghentikan pembunuhan warga sipil Palestina oleh Israel.” Pernyataan ini mencerminkan keprihatinan mendalam PUI terhadap penderitaan rakyat Palestina dan kritik terhadap ketidakmampuan lembaga internasional dalam menjamin keamanan dan hak asasi manusia.
Selain itu, Dr. Wibisono juga menyerukan penghormatan penuh terhadap hak-hak jaminan keamanan bagi masyarakat Kashmir. Beliau berpandangan bahwa penegakan hak-hak fundamental ini merupakan prasyarat mutlak untuk tercapainya perdamaian yang berkelanjutan di kawasan Asia Selatan.
Sekilas tentang Jamaat Islami Pakistan
Jamaat Islami adalah sebuah partai keagamaan yang didirikan oleh salah satu pemikir dan filsuf Islam terkemuka, Maulana Abul A’la Maududi, pada 26 Agustus 1941 di Lahore, Pakistan. Sejarahnya mencatat peran penting Maulana Maududi yang pernah diundang oleh Bapak Pendiri Pakistan, Muhammad Ali Jinnah, untuk menyampaikan ceramah mengenai dasar-dasar sistem kehidupan Islam. Gagasan-gagasannya kemudian diadopsi ke dalam Konstitusi Pakistan. Saat ini, Jamaat Islami memiliki jutaan anggota dan pengikut yang tersebar di Pakistan, India, Bangladesh, Sri Lanka, dan Kashmir. Partai ini didirikan dengan tujuan utama untuk mereformasi masyarakat sesuai dengan ajaran agama, serta mendorong perbaikan moral dalam pemerintahan dan politik.
Kehadiran Tokoh-tokoh Terkemuka dalam Konferensi
Konferensi Muslim Asia-Pasifik tahun 2026 ini dihadiri oleh sejumlah tokoh internasional terkemuka yang semakin menegaskan pentingnya acara ini. Di antara para delegasi yang hadir adalah Dr. Dzulkefly Ahmad, Menteri Kesehatan Malaysia, dan Dr. Rafik Abdussalem, mantan Menteri Luar Negeri Tunisia.
Selain itu, forum ini juga dihadiri oleh para pimpinan partai politik lintas negara, seperti Mr. Mia Golam Parwar, Sekretaris Jenderal Jamaat Islami Bangladesh; Mr. Asif Luqman Qazi, Direktur Hubungan Luar Negeri Jamaat Islami Pakistan; Nurul Izzah Anwar, Deputi Presiden Partai Keadilan Rakyat Malaysia; serta Dr. Ata-ur Rahman, Naib Amir Jamaat Islami Pakistan. Kehadiran para tokoh ini mencerminkan luasnya jangkauan dan signifikansi acara ini dalam kancah global, serta komitmen bersama untuk memperkuat kerjasama strategis di antara komunitas Muslim internasional.



















