Prabowo Hemat APBN: Jaga Defisit di Bawah 3% PDB

Diposting pada

Optimisme Prabowo: Menjaga Defisit APBN di Bawah 3% Melalui Efisiensi

JAKARTA – Menghadapi potensi lonjakan anggaran akibat kenaikan harga minyak global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan optimisme bahwa defisit Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) untuk tahun 2026 dapat dijaga di bawah ambang batas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini sejalan dengan target pemerintah yang telah ditetapkan sebesar 2,68% dari PDB untuk tahun ini.

Kenaikan harga minyak global, terutama jika melampaui asumsi US$ 70 per barel, diprediksi akan membebani anggaran pemerintah. Dalam situasi seperti ini, efisiensi menjadi kunci utama yang ditekankan oleh Presiden Prabowo. Ia menggarisbawahi pentingnya melakukan penghematan serupa dengan yang telah diterapkan di beberapa negara lain.

Pelajaran dari Pakistan: Langkah Efisiensi dalam Krisis

Presiden Prabowo menyoroti pengalaman Pakistan yang telah menganggap kondisi ekonomi saat ini sebagai krisis, bahkan setara dengan masa pandemi COVID-19. Untuk mengatasinya, Pakistan telah mengimplementasikan serangkaian kebijakan penghematan yang drastis:

  • Fleksibilitas Kerja: Menerapkan kebijakan kerja dari rumah (WFH) bagi seluruh pegawai, baik di sektor pemerintah maupun swasta.
  • Pemotongan Hari Kerja: Mengurangi jumlah hari kerja menjadi hanya empat hari dalam seminggu.
  • Pemotongan Gaji Pejabat: Melakukan pemotongan gaji bagi anggota kabinet dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dana hasil pemotongan ini dialokasikan untuk membantu kelompok masyarakat yang paling rentan.
  • Pembatasan Penggunaan BBM: Mengurangi ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) untuk semua kementerian dan mewajibkan 60% kendaraan pemerintah tidak digunakan secara rutin.
  • Penghentian Belanja Non-Esensial: Menghentikan seluruh pengeluaran untuk pembelian AC, kendaraan baru, dan mebel di semua lembaga pemerintahan.

“Ini hanya contoh. Maksud saya, ini ada berapa hari, saya kira kita bisa mengkaji masalah ini. Saya kira kita juga harus mengupayakan bahwa kita melakukan penghematan,” ujar Presiden Prabowo saat Sidang Kabinet Paripurna, Jumat (13/3/2026). Ia menambahkan, “Saya percaya 2-3 tahun kita akan sangat kuat. Tapi tetap kita harus hemat konsumsi.”

Menuju APBN Seimbang: Cita-cita dan Tantangan

Dengan menerapkan langkah-langkah efisiensi yang terukur, Presiden Prabowo optimistis defisit APBN akan sesuai dengan target yang ditetapkan. Lebih dari itu, ia memiliki cita-cita agar Indonesia dapat mencapai kondisi APBN yang seimbang, sebuah kondisi yang dinilainya paling ideal dan masih memungkinkan untuk diwujudkan.

Namun, Presiden Prabowo juga memberikan peringatan tegas mengenai pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai praktik kebocoran dan ketidakefisienan dalam pengelolaan anggaran. Ia secara spesifik menyebutkan praktik under invoicing atau penagihan dengan nilai yang lebih rendah dari sebenarnya, serta manipulasi administratif, yang diyakininya masih marak terjadi dan menimbulkan kerugian negara yang signifikan.

Diperkirakan, penindakan terhadap praktik-praktik tersebut dapat mengurangi kebocoran anggaran hingga sekitar 40% dari total pengeluaran pemerintah. Presiden Prabowo meminta agar isu ini dibahas lebih mendalam oleh para menteri koordinator dalam beberapa hari ke depan untuk mendapatkan pertimbangan yang matang.

Pengalaman selama masa pandemi COVID-19 juga menjadi pelajaran berharga. Saat itu, pemerintah berhasil menerapkan berbagai langkah efisiensi, termasuk kebijakan kerja dari rumah yang secara signifikan mengurangi konsumsi bahan bakar minyak.

“Beberapa ASN dan pejabat tidak usah ke kantor, mengurangi macet dan melaksanakan penghematan besar-besaran,” ungkapnya, merujuk pada dampak positif dari kebijakan tersebut.

Selain itu, Presiden Prabowo menilai bahwa pengurangan hari kerja dan berbagai langkah penghematan lainnya perlu dipertimbangkan kembali sebagai bagian integral dari upaya efisiensi anggaran yang berkelanjutan.

“Bahwa kita walaupun merasa aman, tidak panik, tapi kita juga tidak boleh terlalu lengah. Kita tidak boleh tidak mempersiapkan diri untuk kemudian paling jelek. Kita berharap skenario yang terburuk tidak terjadi di Timur Tengah,” tegasnya, menekankan pentingnya kesiapsiagaan di tengah ketidakpastian global, meskipun optimisme tetap dijaga.

Gambar Gravatar
Hendra merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan