Warga Pengungsian Tanah Gerak Semarang Bangun Dapur Umum Mandiri, Harapkan Kepastian Relokasi
SEMARANG – Di tengah guyuran hujan yang tak kunjung reda, semangat gotong royong membara di Kampung Sekip, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, pada Minggu (22/2/2026). Para pengungsi yang terdampak bencana tanah gerak di kawasan Jalan Burangrang Raya itu tak gentar menghadapi cuaca buruk demi membangun kemandirian pangan. Mereka berinisiatif mendirikan dapur umum mandiri di lokasi pengungsian yang kini ditempati oleh 60 jiwa.
Langkah proaktif ini diambil sebagai respons atas rencana penghentian bantuan logistik berupa nasi bungkus yang selama ini disalurkan oleh Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Sosial. Bantuan tersebut dijadwalkan akan berakhir pada Rabu mendatang, sehingga kemandirian dalam penyediaan makanan menjadi prioritas utama bagi para pengungsi.
Di bawah naungan enam tenda oranye BNPB yang menjadi tempat tinggal sementara, para pengungsi bahu-membahu memasang terpal dan menyiapkan berbagai peralatan masak berukuran besar. Ketua RT setempat, Joko Sukaryono, menekankan urgensi pembangunan dapur umum mandiri ini.
“Batas waktu bantuan nasi bungkus dari dinas sosial akan segera berakhir, kurang lebih terakhir besok Rabu. Maka hari ini mumpung warga libur, kita gotong royong mendirikan dapur umum mandiri. Untuk bahan mentahnya, kami mendapat dukungan dari CSR,” ujar Sukaryono di sela-sela kesibukan warga. Dukungan dari sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) ini diharapkan dapat menopang kebutuhan pangan para pengungsi hingga solusi permanen ditemukan.
Kondisi Kampung Sekip Kian Mengkhawatirkan: 17 Rumah Ambles, Jalan Utama Putus
Situasi di Kampung Sekip, Tembalang, dilaporkan semakin memprihatinkan akibat pergerakan tanah yang terus berlangsung. Data terbaru mencatat adanya peningkatan jumlah rumah yang terdampak, kini mencapai 17 unit, naik dari sebelumnya 15 rumah. Fenomena alam ini telah mengubah lanskap permukiman secara drastis.
Retakan tanah yang awalnya hanya berukuran 30 sentimeter kini telah melebar hingga mencapai satu meter. Kondisi ini menyebabkan akses jalan utama di kawasan tersebut terputus total, sehingga tidak dapat lagi dilalui oleh kendaraan. Kontur tanah di lokasi bencana mengalami perubahan signifikan, menjadi bergelombang dengan beberapa titik ambles yang cukup dalam, menggambarkan kekuatan pergerakan tanah yang terjadi.
Lebih lanjut, empat rumah warga dilaporkan telah roboh sepenuhnya, sementara sisa rumah lainnya mengalami kondisi miring dan retak parah, menjadikannya tidak layak huni. Kerusakan struktural ini menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi para pemilik rumah yang kehilangan tempat tinggal mereka.
“Ada beberapa retakan baru yang semakin melebar. Meskipun curah hujan tidak terlalu tinggi akhir-akhir ini, tanah masih bergerak secara perlahan dan senyap,” tambah Sukaryono, mengindikasikan bahwa ancaman pergerakan tanah masih terus ada meski tidak terlihat secara kasat mata.
Menanti Realisasi Janji Relokasi: Harapan Baru bagi Warga Terdampak
Bencana tanah gerak di Kampung Sekip ini memang telah menarik perhatian luas, bahkan hingga ke tingkat nasional. Pada Sabtu (14/2/2026), Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, didampingi oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi pengungsian.

Dalam kunjungan tersebut, pemerintah memberikan janji mengenai skema relokasi sebagai solusi permanen untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi warga terdampak. Pernyataan ini memberikan secercah harapan bagi mereka yang telah kehilangan rumah dan mata pencaharian.
“Keselamatan bapak ibu nomor satu. Untuk masalah relokasi akan segera dicarikan solusi,” tegas Gibran saat itu, sembari mengimbau warga untuk tidak kembali ke zona berbahaya demi keselamatan mereka.
Saat ini, para pengungsi diizinkan untuk menempati lahan pengungsian sementara yang telah disediakan, dengan estimasi masa tinggal selama dua bulan ke depan. Namun, hingga berita ini diturunkan, kepastian mengenai lokasi lahan relokasi baru masih dalam tahap pembahasan oleh pemerintah daerah dan pusat.
Warga terdampak sangat berharap agar kepastian mengenai lahan relokasi segera terwujud sebelum masa sewa lahan pengungsian sementara berakhir. Harapan ini bukan hanya sekadar tempat tinggal baru, tetapi juga kesempatan untuk memulai kembali kehidupan yang lebih aman dan stabil, jauh dari ancaman bencana yang terus menghantui.



















