Anggota DPRD DKI Jakarta menekankan pentingnya upaya berkelanjutan dalam mengatasi banjir di ibu kota. Menurutnya, pengerukan lumpur dan normalisasi sungai tetap menjadi strategi krusial, namun harus dilaksanakan secara terencana, rutin, dan dengan skala yang signifikan.
“Pengerukan lumpur dan normalisasi sungai masih sangat relevan dan berdampak besar pada pengendalian banjir. Tetapi, pelaksanaannya harus masif, rutin, dan tidak boleh setengah-setengah,” ujarnya.
Ia mendesak agar penanganan banjir dilakukan secara komprehensif, meliputi:
- Pembenahan Sistem Drainase Terpadu: Sistem drainase yang terintegrasi sangat penting untuk mengalirkan air secara efektif dan mencegah genangan.
- Revitalisasi Sungai dan Waduk: Sungai dan waduk yang berfungsi dengan baik dapat menampung air berlebih saat musim hujan.
- Percepatan Pemasangan Sheet Pile: Pemasangan sheet pile di tepi sungai dapat mencegah erosi dan longsor yang dapat memperparah banjir.
- Penguatan Infrastruktur Pengendali Banjir: Infrastruktur seperti polder dan pompa air harus dipastikan berfungsi optimal untuk memompa air keluar dari wilayah rawan banjir.
Selain pembangunan fisik, edukasi masyarakat tentang pengelolaan sampah dan kesadaran lingkungan juga dinilai sangat penting.
Penegakan aturan tata ruang juga harus dilakukan dengan tegas agar masalah banjir tidak terus berulang setiap tahun. Penanganan banjir tidak bisa lagi dilakukan secara parsial, melainkan harus menyentuh akar persoalan secara menyeluruh.
Pembangunan saluran air mikro di kawasan permukiman padat penduduk menjadi salah satu aspek krusial. Ia menyoroti masih adanya rumah warga yang berdiri di atas atau menutup saluran air, sehingga mempersempit aliran dan memicu genangan.
“Saluran air jadi tidak bisa bekerja maksimal akibat ada rumah-rumah yang berdiri di atas atau menutup saluran. Ini tidak bisa dibiarkan. Harus ada penertiban tegas, karena keegoisan segelintir oknum masyarakat berakibat dampaknya dirasakan banyak warga,” tegasnya.
Di sisi lain, persoalan sampah, terutama saat banjir kiriman dari wilayah hulu, turut memperparah kondisi banjir di Jakarta. Karena itu, sosialisasi pengelolaan sampah harus dilakukan secara masif dan berkelanjutan.
“Kalau banjir kiriman datang, air itu membawa sampah. Akhirnya saluran tersumbat, pompa terganggu, dan banjir makin parah. Maka edukasi dan sosialisasi ke masyarakat harus terus dilakukan, jangan bosan-bosan,” katanya.
Lebih lanjut, ia meminta Dinas Sumber Daya Air (SDA) dan Dinas Lingkungan Hidup (LH) memperkuat koordinasi di lapangan, khususnya saat hujan berintensitas tinggi.
- Koordinasi Antar Dinas: Dinas SDA dan LH harus bekerja sama secara erat untuk memastikan penanganan banjir berjalan efektif.
- Kesiapsiagaan Petugas: Petugas satgas SDA dan LH harus selalu siap siaga di rumah pompa dan saling berkoordinasi.
- Penanganan Sampah yang Cepat: Sampah yang menyangkut di saluran air harus segera diangkat agar tidak menghambat aliran air.
- Fungsi Pompa yang Optimal: Pompa air harus dipastikan berfungsi maksimal untuk memompa air keluar dari wilayah rawan banjir.
“Petugas satgas SDA dan LH harus standby di rumah pompa dan saling berkoordinasi. Jangan berjalan sendiri-sendiri. Sampah yang menyangkut harus segera diangkat, pompa harus dipastikan berfungsi maksimal. Kalau koordinasi berjalan baik, dampak banjir bisa ditekan,” pungkasnya.




















