Operasi Pencarian Intensif Dilakukan Pasca Hilangnya Seorang Warga di Sungai Purworejo
Upaya pencarian seorang warga yang dilaporkan hilang dan diduga tenggelam di Sungai Desa Kalimeneng, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo, terus digencarkan. Laporan mengenai kondisi membahayakan manusia ini pertama kali diterima oleh Kantor SAR Cilacap melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Purworejo pada Minggu, 22 Februari 2026.
Menanggapi laporan tersebut, Kepala Kantor SAR Cilacap, M. Abdullah, segera menginstruksikan pemberangkatan satu tim rescue dari Unit Siaga SAR (USS) Kebumen. Tim ini ditugaskan untuk segera melakukan pencarian intensif terhadap korban di lokasi kejadian yang dilaporkan.
Informasi yang berhasil dihimpun dari berbagai pihak menyebutkan bahwa korban terakhir kali terlihat pada Sabtu, 21 Februari 2026, sekitar pukul 10.00 WIB. Pihak yang terakhir kali melihat korban adalah adiknya sendiri. Namun, hingga Minggu, 22 Februari 2026, keberadaan korban belum juga ditemukan dan ia tidak kunjung kembali ke rumahnya.
Sebelum laporan resmi dibuat, keluarga korban bersama dengan masyarakat sekitar telah berupaya melakukan pencarian secara mandiri. Dalam upaya pencarian awal tersebut, ditemukan beberapa barang milik korban di tepi sungai, berjarak sekitar 50 meter dari lokasi rumahnya. Barang-barang yang ditemukan meliputi baju lurik berwarna hitam silver, sebuah topi, sabit, dan karung. Penemuan barang-barang ini semakin memperkuat dugaan bahwa korban mungkin tenggelam.
Identitas korban yang saat ini masih dalam proses pencarian adalah Tugirun, seorang pria berusia 73 tahun. Ia merupakan warga Paduroso, Desa Kalimeneng RT 01 RW 01, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Sejak Minggu pagi, tim rescue dari USS Kebumen bersama dengan tim SAR gabungan yang terdiri dari berbagai unsur terkait telah melakukan operasi pencarian secara sistematis. Metode pencarian yang diterapkan meliputi body rafting, yaitu menyusuri aliran sungai dengan berenang, serta penyisiran darat di sepanjang bantaran sungai. Titik pencarian dimulai dari lokasi kejadian hingga ke arah hilir sungai, dengan jangkauan hingga Jembatan Tunggorono.
Meskipun berbagai upaya telah dilakukan dengan mengerahkan sumber daya yang ada, hingga Minggu sore pukul 17.00 WIB, operasi pencarian belum membuahkan hasil yang diharapkan. Korban belum berhasil ditemukan.
Menyikapi situasi ini, operasi SAR akan dilanjutkan kembali pada hari berikutnya. Pencarian dijadwalkan akan dimulai kembali pada Senin, 23 Februari 2026, pukul 07.00 WIB. Tim SAR gabungan tetap berkomitmen untuk terus melakukan upaya pencarian hingga korban ditemukan, dengan harapan dapat segera memberikan kejelasan bagi keluarga dan masyarakat yang menantikan.
Tantangan Pencarian di Aliran Sungai
Pencarian korban di aliran sungai seperti yang terjadi di Desa Kalimeneng menghadirkan berbagai tantangan tersendiri. Arus sungai yang deras, kondisi dasar sungai yang mungkin berlumpur atau dipenuhi material lain, serta jarak pandang yang terbatas di dalam air, semuanya menjadi faktor yang mempersulit upaya tim SAR.
Tim SAR gabungan, yang biasanya terdiri dari personel Basarnas, BPBD, TNI, Polri, relawan kemanusiaan, dan masyarakat setempat, harus bekerja sama dengan cermat. Setiap anggota tim memiliki peran penting, mulai dari pengamatan visual di permukaan, penyelaman jika kondisi memungkinkan, hingga penyisiran area tepi sungai.
- Metode Pencarian:
- Body Rafting: Metode ini sangat efektif untuk menyisir area sungai yang luas. Tim akan bergerak secara berkelompok, saling menjaga, dan mengamati setiap sudut aliran sungai.
- Penyisiran Darat: Dilakukan di sepanjang bantaran sungai untuk mencari jejak, barang bukti, atau korban yang mungkin tersangkut di vegetasi tepi sungai atau berada di area yang dangkal.
- Penggunaan Alat Bantu: Dalam beberapa kasus, tim SAR mungkin menggunakan alat bantu seperti perahu karet, drone untuk pemantauan udara, atau bahkan sonar jika tersedia dan diperlukan.
Peran Penting Informasi Awal
Informasi awal yang akurat sangat krusial dalam keberhasilan operasi pencarian. Laporan mengenai kapan terakhir kali korban terlihat, di mana lokasi terakhirnya, serta deskripsi fisik dan pakaian yang dikenakan, semuanya membantu tim SAR untuk memfokuskan area pencarian. Penemuan barang-barang milik korban di tepi sungai juga memberikan petunjuk penting mengenai kemungkinan jalur yang dilalui korban sebelum hilang.
Pihak keluarga dan masyarakat yang mengenal korban dengan baik juga dapat memberikan informasi berharga mengenai kebiasaan korban, area yang sering dikunjungi, atau kondisi fisik dan mental korban sebelum kejadian. Kolaborasi antara tim SAR profesional dan masyarakat setempat seringkali menjadi kunci keberhasilan dalam operasi penyelamatan.
Hingga berita ini diturunkan, operasi pencarian masih berlangsung. Seluruh pihak yang terlibat berharap agar korban dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat.




















