• Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
No Result
View All Result
Subscribe
  • Login
  • Register
batampena.com
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature
batampena.com
No Result
View All Result
Home politik

Trump: Netanyahu Gila, Saya Selamatkan Dia dari Penjara

Hendra by Hendra
19 Juni 2026 - 22:16
in politik
0

Ketegangan Meningkat: Serangan Israel ke Lebanon Picu Amarah Trump dan Boikot Iran

Hubungan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan memanas secara signifikan. Pemicunya adalah intensifikasi serangan militer Israel ke wilayah Lebanon, yang dikhawatirkan mengganggu negosiasi penting AS dengan Iran. Situasi ini semakin rumit dengan ancaman Iran untuk memboikot pembicaraan damai dengan Amerika Serikat sebagai bentuk protes atas tindakan Israel.

Menurut laporan dari pejabat AS dan sumber lain yang diungkapkan kepada Axios, Trump meluapkan kekesalannya kepada Netanyahu melalui percakapan telepon yang diwarnai dengan kata-kata keras. Trump dilaporkan menuduh Netanyahu mendorong Israel menuju isolasi internasional dan membahayakan upaya diplomatik AS yang sedang berlangsung dengan Iran.

Dalam percakapan tersebut, Trump bahkan disebut menggunakan kata “gila” untuk menggambarkan Netanyahu, sambil mengeluhkan tindakan pemimpin Israel yang dianggapnya tidak mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. “Kau benar-benar gila. Kau pasti sudah dipenjara jika bukan karena aku. Aku menyelamatkanmu. Semua orang membencimu sekarang. Semua orang membenci Israel karena ini,” demikian kutipan dari salah satu sumber yang mengetahui percakapan tersebut.

Latar Belakang Perlindungan Trump terhadap Netanyahu

Pernyataan Trump ini memiliki konteks yang lebih luas. Pada 21 November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan selama konflik di Jalur Gaza. Surat perintah ini mengikat 124 negara anggota ICC.

Namun, Trump diketahui secara aktif melindungi Netanyahu dari tuntutan ICC. Ia bahkan mengeluarkan perintah eksekutif yang menjatuhkan sanksi terhadap lembaga peradilan internasional tersebut. Trump menuding ICC melakukan tindakan tidak sah dan tidak berdasar karena berani menargetkan sekutu dekat AS, yaitu Israel. Lebih lanjut, Trump dilaporkan memasukkan nama Netanyahu ke dalam struktur Dewan Perdamaian yang dibentuknya, meskipun pemimpin Israel tersebut berstatus sebagai buron ICC.

Baca Juga  Breaking news tanah longsor hancurkan Cihaurbeuti Ciamis, warga lari selamatkan diri

Iran Hentikan Pembicaraan dengan AS Akibat Serangan Israel

Di sisi lain, Iran memutuskan untuk menghentikan sementara pembicaraan dan pertukaran pesan dengan Amerika Serikat yang selama ini berlangsung melalui perantara. Keputusan ini diambil sebagai bentuk protes terhadap berlanjutnya serangan Israel di Lebanon dan Jalur Gaza. Teheran menilai tindakan Israel tersebut merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sedang diupayakan di kawasan.

Kantor berita Tasnim, yang mengutip sumber-sumber yang mengetahui proses negosiasi, melaporkan bahwa tim perunding Iran menilai gencatan senjata tidak dapat dipisahkan antara satu front dengan front lainnya. Menurut pandangan Iran, pelanggaran yang terjadi di Lebanon secara otomatis berarti pelanggaran terhadap keseluruhan upaya penghentian konflik di kawasan.

Para pejabat dan negosiator Iran menegaskan bahwa syarat utama untuk melanjutkan jalur komunikasi dengan Washington adalah penghentian segera operasi militer Israel di Lebanon dan Gaza, serta penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Lebanon yang masih diduduki. Iran menyatakan tidak akan ada pembicaraan lebih lanjut sebelum tuntutan tersebut dipenuhi oleh pihak-pihak terkait.

Tasnim menambahkan bahwa Iran bersama kelompok-kelompok yang tergabung dalam “Front Perlawanan” telah memasukkan sejumlah opsi balasan ke dalam agenda mereka. Opsi tersebut termasuk kemungkinan penutupan Selat Hormuz dan pengaktifan front-front lain di kawasan seperti Selat Bab al-Mandab, sebagai respons terhadap tindakan Israel dan para pendukungnya.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa setiap pelanggaran gencatan senjata di satu wilayah konflik harus dianggap sebagai pelanggaran di seluruh front, termasuk Lebanon. Senada dengan itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ismail Baghaei menyebut gencatan senjata di Lebanon merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya penghentian permusuhan secara menyeluruh di Timur Tengah. Ia juga menuduh AS dan Israel telah melanggar komitmen gencatan senjata tersebut.

Baca Juga  Bos Maktour Dipanggil KPK Terkait Kasus Haji Era Yaqut

Sebelumnya, Iran dan AS diketahui terus bertukar pesan melalui pihak ketiga sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan dan membahas berbagai isu perselisihan pasca-perang terakhir, lapor Al Jazeera. Namun, meningkatnya operasi militer Israel di Lebanon membuat Teheran memutuskan untuk membekukan jalur komunikasi tersebut hingga situasi berubah.

PBB Gelar Sidang Darurat di Tengah Eskalasi Konflik

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar sidang darurat atas permintaan Prancis pada Senin, 1 Juni 2026 malam, menyusul meningkatnya eskalasi konflik di Lebanon selatan. Pertemuan tersebut digelar setelah militer Israel memperluas operasi daratnya hingga ke wilayah yang lebih dalam di Lebanon, sementara Hizbullah meningkatkan serangan roket, rudal, dan drone ke berbagai wilayah Israel.

Kekhawatiran internasional semakin meningkat setelah pasukan Israel dilaporkan merebut Kastel Beaufort di dekat Nabatiyeh. Lokasi ini merupakan situs strategis dan simbolis yang pernah menjadi basis militer Israel selama pendudukan Lebanon Selatan pada periode 1982–2000. Di saat yang sama, serangan di dekat sebuah rumah sakit di Kota Tyre dilaporkan melukai sejumlah tenaga medis.

Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Politik dan Operasi Perdamaian, Martha Ama Akyaa Pobee, mengatakan situasi di Lebanon saat ini “sangat mengkhawatirkan”. Menurutnya, pasukan Israel terus bergerak ke utara wilayah Lebanon, sementara Hizbullah memperluas jangkauan serangannya lebih jauh ke wilayah Israel.

Pobee menjelaskan bahwa Israel telah meningkatkan operasi militernya dengan bergerak ke utara Sungai Litani, memperluas serangan udara hingga ke Lembah Beqaa dan pinggiran Beirut, serta mengeluarkan perintah evakuasi bagi warga sipil di sejumlah wilayah. Sementara itu, Hizbullah terus melancarkan puluhan serangan menggunakan roket, rudal antitank, drone serat optik, hingga rudal permukaan-ke-udara terhadap target-target Israel.

Baca Juga  Polri pecat 689 personel sepanjang 2025

Menurut PBB, perkembangan ini mengancam kesepakatan penghentian permusuhan yang diumumkan Amerika Serikat pada 16 April lalu dan berisiko menghancurkan upaya diplomasi yang sedang berlangsung. Pobee juga menegaskan bahwa keberadaan pasukan Israel di utara Garis Biru (Blue Line) merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan Lebanon dan Resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB.

Di sisi lain, ia juga menegaskan bahwa Hizbullah dan kelompok bersenjata non-negara lainnya harus melucuti senjata karena Angkatan Bersenjata Lebanon merupakan satu-satunya kekuatan militer yang sah di negara tersebut.

Tags: netanyahuselamatkan
  • Editor: Riko A Saputra
  • Redaktur Pelaksana: Erwin
Temukan Berita Lainnya

Baca Juga

Rusia Ancam Serangan Besar, Ukraina: Permainan Psikologis
politik

Rusia Ancam Serangan Besar, Ukraina: Permainan Psikologis

19 Juni 2026 - 23:34
UU PDP Baru: Implikasi dan Kewajiban Perlindungan Data Pribadi Anda
berita

UU PDP Baru: Implikasi dan Kewajiban Perlindungan Data Pribadi Anda

19 Juni 2026 - 23:17
Pertemuan PBB di Jenewa: Gema Ketegangan Geopolitik Global Memasuki Babak Baru
berita

Pertemuan PBB di Jenewa: Gema Ketegangan Geopolitik Global Memasuki Babak Baru

19 Juni 2026 - 21:10
Trump ke Netanyahu: “Kau Gila, Aku Selamatkanmu!”
politik

Trump ke Netanyahu: “Kau Gila, Aku Selamatkanmu!”

19 Juni 2026 - 19:14
Harlah ke-5 PRIMA: Agus Jabo Serukan Revolusi Ekonomi Pancasila
politik

Harlah ke-5 PRIMA: Agus Jabo Serukan Revolusi Ekonomi Pancasila

19 Juni 2026 - 18:22
WTP ke-12: Bupati Dairi Pacu Pembangunan & Tata Aset
politik

WTP ke-12: Bupati Dairi Pacu Pembangunan & Tata Aset

19 Juni 2026 - 17:30
Please login to join discussion

Berita Populer

  • Setelah Bencana, Ancaman Baru Mengintai: Kenali Penyakit Pascabencana

    Setelah Bencana, Ancaman Baru Mengintai: Kenali Penyakit Pascabencana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cak Nur dan Hardi Selamat Hood Bersama Rombongan Datangi KPU Kota Batam 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aussie Porn Blocks Fuel VPN App Surge

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Italia Setujui Hibah Kapal Induk Garibaldi ke RI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jaksa Tuntut Kompol Satria Nanda Dengan Pidana Mati 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pilihan Redaksi

Rusia Ancam Serangan Besar, Ukraina: Permainan Psikologis

Rusia Ancam Serangan Besar, Ukraina: Permainan Psikologis

19 Juni 2026 - 23:34
Iran Peace Talks: Trump Demands Tougher Rhetoric

Iran Peace Talks: Trump Demands Tougher Rhetoric

19 Juni 2026 - 23:21
UU PDP Baru: Implikasi dan Kewajiban Perlindungan Data Pribadi Anda

UU PDP Baru: Implikasi dan Kewajiban Perlindungan Data Pribadi Anda

19 Juni 2026 - 23:17
5 Shio Beruntung April 2026: Tikus Panen Hasil Kerja Keras

5 Shio Beruntung April 2026: Tikus Panen Hasil Kerja Keras

19 Juni 2026 - 23:08
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 batampena.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature

Copyright © 2025 batampena.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In