Analisis Mendalam: Warga Israel Merasakan Kegelisahan di Tengah Ketegangan Geopolitik
Situasi terkini di wilayah yang dikuasai rezim Zionis Israel tengah diselimuti oleh ketidakpastian dan kegelisahan yang mendalam. Seorang warga keturunan Arab-Yahudi yang tinggal di sana, Alon Mizrahi, melalui unggahannya di platform media sosial X, menyoroti perkembangan sosial dan pemerintahan yang tidak biasa. Ia berpendapat bahwa respons balasan dari Republik Islam Iran terhadap agresi yang dilakukan oleh Israel bersama Amerika Serikat telah memicu krisis yang berpotensi mengarah pada keruntuhan otoritas dan kekuatan militer Zionis.
Mizrahi memprediksi bahwa pemerintahan yang saat ini dipimpin oleh Benjamin Netanyahu akan menghadapi kehancuran yang signifikan akibat serangan rudal dan misil balasan dari Iran. Ia memperkirakan, dalam kurun waktu sekitar satu bulan ke depan, negara tersebut akan mulai mengalami keruntuhan secara bertahap. “Saya pikir, dengan langkah seperti ini, dalam satu bulan atau lebih, negara ini (Zionis Israel) akan mulai hancur, sedikit demi sedikit,” ungkapnya.
Sebagai seorang jurnalis, Mizrahi mengamati bahwa respons balasan Iran terhadap Israel selama dua minggu terakhir konflik telah menunjukkan adanya pelemahan pada pihak militer Israel. Kelemahan ini, menurutnya, membuat otoritas pemerintahan Benjamin Netanyahu di Tel Aviv kesulitan untuk mengantisipasi pertahanannya yang mulai goyah. “Dugaan saya adalah, Iran telah mampu melemahkan angkatan udara Israel secara serius, dan Israel tidak memiliki jawaban,” tulisnya.
Selain aspek militer, Mizrahi juga mencatat adanya perubahan psikologis yang meluas di kalangan warga Israel. Perubahan ini terasa sangat kentara akibat ketakutan yang mendalam, ditambah dengan kesedihan atas banyaknya kehilangan yang dialami. Lebih jauh lagi, masyarakat Israel mulai kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan pemerintahan mereka.

Personel layanan darurat memeriksa kerusakan di lokasi sebuah bangunan yang terkena rudal Iran di Tel Aviv, Israel, 1 Maret 2026. – (EPA/ABIR SULTAN)
“Saya tidak bisa menentukan secara pasti apa yang membuat saya mengatakan ini. Tetapi ada sesuatu tentang Israel, bagi seorang warga negara yang jeli seperti saya, yang melihat adanya kejanggalan, keanehan, dan kelesuan. Ada sesuatu yang tidak beres. Bisa jadi karena kesehatan (Benjamin) Netanyahu, atau hilangnya beberapa kemampuan strategis, saya tidak tahu. Tetapi suasananya jelas telah berubah, dengan rasa ketakutan, dan kesedihan yang jauh lebih dekat ke permukaan,” ujar Mizrahi, menggambarkan suasana kegelisahan yang merayap.
Eskalasi Konflik dan Dampaknya
Perang terbuka antara rezim Zionis Israel-Amerika Serikat dan Iran telah memasuki minggu kedua sejak 28 Maret 2026. Hingga saat ini, belum ada indikasi negosiasi gencatan senjata. Kedua belah pihak terus terlibat dalam serangan udara, dengan Israel-AS melancarkan pengeboman ke berbagai fasilitas di wilayah Iran.
Di Teheran, meskipun masih dalam suasana duka atas syahidnya Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei dalam serangan awal oleh koalisi Zionis-AS, militer Iran menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Meskipun berada dalam posisi bertahan, militer Iran dilaporkan masih mampu melakukan perlawanan dengan melancarkan serangan balasan menggunakan drone penyerbu dan rudal canggih ke wilayah pendudukan Zionis Israel di Palestina.
Rudal-rudal canggih Iran juga dilaporkan menghujani pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat, serta aset-aset lainnya yang tersebar di berbagai negara Teluk Arab, termasuk Kuwait, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Yordania, dan Irak.
Konflik ini semakin meluas dengan bergabungnya kelompok bersenjata Hizbullah dari Lebanon selatan, yang turut membantu Iran dalam membombardir wilayah pendudukan Israel. Militer Israel pun membalas serangan ini tanpa pandang bulu, termasuk menargetkan pemukiman sipil hingga ke Beirut. Laporan menyebutkan lebih dari seribu warga Lebanon tewas akibat serangan-serangan rezim Zionis tersebut.
Dari laporan-laporan yang diterima di Iran, jumlah korban perang diperkirakan mencapai lebih dari 1.500 jiwa, termasuk sekitar 175 anak sekolah yang menjadi korban pengeboman Zionis-AS. Namun, angka pasti korban tewas di pihak Israel maupun militer AS di kawasan tersebut sulit diperoleh karena adanya penyensoran informasi.
Meskipun demikian, Anadolu Agency pada Jumat, 13 Maret 2026, mengutip Kementerian Kesehatan Israel, melaporkan bahwa jumlah korban luka-luka dan kritis di wilayah tersebut mendekati 3.000 orang.
Dampak serangan balasan Iran ke wilayah pendudukan Israel juga sulit untuk diverifikasi secara pasti karena adanya penyensoran dari pihak militer Zionis. Namun, sejumlah video amatir yang beredar di media sosial, serta dokumentasi yang bocor ke media resmi, banyak menampilkan kondisi kota-kota di Israel yang hancur akibat serangan drone dan rudal balasan Iran. Belakangan, ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial prediksi bahwa Perdana Menteri Zionis Benjamin Netanyahu telah tewas akibat serangan balasan Iran.











